Mengupayakan keberhasilan adalah juga OTOMATIS upaya menghindari kegagalan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2013

Ayah

Ayah
( Untuk Ayah : Rudianto )
Oleh : Eva Juliyanti
Ayah….
Kau pemberi namaku
Kau pemberi identitasku
Aku dulu bukan apa-apa
Aku hanyalah seonggok sampah,
Tercecer di trotoar berbau, tak bernilai guna

Berkat kau Ayahku…
Aku menjadi sesosok batu cadas
Tak segan-segan berdiri di pingggi trotoar itu
Aku tegar, aku kuat
Berkat tangan kerasmu

Tanganmu menampar-nampar sampah itu
Tanganmu pula menjadikan sampah itu
Menjadi batu, batu cadas yang kokoh
Tak kan goyah, walaupun di hantam
Ribuan bahkan jutaan debu,Polusi
Mmenginginkan batu ini rapuh
Dan kembali menjadi sampah
Namun kau, menghalanginya

Minggu, 09 Juni 2013

Robohnya Surau Kami, Robohnya Rasa Kepedulian


Robohnya Surau Kami, Robohnya Rasa Kepedulian

Oleh : Eva Juliyanti
S
ebuah karya sastra dikatakan bemanfaat jika mendapatkan respon dari pembacanya, respon dari pembaca ini dapat diungkapkan melalui sebuah kritikan terhadap suatu karya tersebut. Dalam mengkritik sebuah karya sastra seorang kritikus melakukan aktivitas yang mencakup 3 (tiga) hal, yaitu menganalisis, menafsirkan, dan menilai karya sastra.
Dalam melakukan aktivitas itu kita dapat menggunakan beberapa pendekatan yaitu pendekatan structural, antropologi, semiotika, feminisme, psikologi, sosiologi, hermeneutika dan stilistika sebagai pisau bedah untuk membredeli karya sastra.
Haji Ali Akbar Navis atau dikenal dengan AA Navis lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang 17 November 1924 merupakan sastrawan yang dujuliki Sang Kepala Pencemooh. Entah mengapa julukan ini sampai padanya. Mungkin karena ia adalah salah seorang tokoh yang ceplas-ceplos dan apa adanya. Ia mempunyai pendirian bahwa yang hitam itu tetap hitam dan putih tetaplah putih.
 Ia amat sedih melihat para tikus-tikus alias koruptor yang menggrogoti negeri ini. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tapi jika diberi pilihan ia akan memilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Sungguh semangat yang begitu besar dan mungkin sangat jarang kita temui pada generasi sekarang ini.
Sepanjang hidupnya, ia telah melahirkan sejumlah karya-karya yang apik dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Ia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan. Ia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.
Ia mulai menulis sejak tahun 1950, namun hasil karyanya baru mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar 1955, itu telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Beberapa karyanya yang amat terkenal, selain Robohnya Surau Kami (1955) adalah Bianglala (1963), Hujan Panas (1964); Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi, (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci, (1975), hingga karya terakhirnya yang bertajuk Jodoh (1998).
Pada cerpen berjudul Robohnya Surau Kami ia ingin menyampaikan kepada pembaca bahwa adanya keruntuhan ideology beragama yang disebabkan oleh hal yang kecil namun berakibat fatal dalam kehidupan. Hal ini ditunjukaan dengan watak tokoh-tokoh yang ia lakonkan dalam cerpen tersebut.
AA Navis yang berasal dari Sumatra Barat yang identik dengan nilai keagamaannya, dalam cerpen ini sangat kental nilai agamanya. Cerpen ini mencerminkan seorang hamba yang taat kepada Allah namun melupakan kehidupannya di dunia. Hal ini ditunjukan pada tokoh kakek Garin dan Haji Saleh mereka merupakan seorang hamba yang sangat taat kepada Allah. Begitu patuhnya ia kepada Allah dan tak ingin mengecewakan Allah sampai-sampai mereka melupakan kewajibannya sebagai mahluk sosial alias manusia. Seperti pada kutipan dialog kakek Garin di bawah ini :

“ Sedari muda aku di sini bukan? Tak ku ingat punya isri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

 Dan dialog Haji Saleh dengan Allah,
“ Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.
“ Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri,melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.”
            Terlihat jelas dari dialog yang diucapkan oleh kakek Garin  bahwa ia hanya memikirkan hubungannya kepada Allah dan menghiraukan keadaan disekelilingnya. Ia lupa akan kodratnya sebagai manusia yang saling membantu dan melengkapi.
            Pada dialog Haji Saleh kepada Allah terpampang juga bahwa Allah marah kepada hambanya yang hanya menyembahnya tanpa melakukan hal yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
            Dengan keegoisan yang dimiliki oleh para tokoh ini mengakibatkan hal yang bersifat fatal dan merugikan orang yang berada di sekelilingnya. Mereka tidak memanfaatkan dan melestarikan kekayaan alam yang diberikan Allah, sehingga kekayaan yang sangat melimpah itu dirampas oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
            Al-hasil kekayaan yang kita miliki telah berpindah tangan menjadi hak milik orang lain dan kita seakan-akan menumpang di Negara lain yang notabene merupakan Negara kita. Hal itu karena ketidakpedulian kita terhadap kekayaan alam yang kita miliki.
            Jika sudah begini yang dapat dilakukan oleh kita adalah mengecam atau orang yang telah merebut kekayaan alam yang kita miliki. Sebelum kekayaan itu diklaim oleh pihak lain kita hanya bisa diam dan acuh, namun jika sudah diklaim barulah kita kebakan jenggot untuk merampasnya lagi.
                                                            *          *          *
            Sikap acuh kita terhadap nikmat yang diberikan Allah itu berarti kita tidak bersyukur terhadap-Nya. Dan seperti janji Allah “ Barang siapa mensyukuri nikmat Ku maka akan ku tambah nikmat itu.”
Selain kita menyembah kepada Allah kita juga harus melihat keadaan sekitar kita dan peduli terhadap apa yang telah Allah ciptakan di dunia ini. Namun, kenyataannya kita selama ini hanya merusak dan bersikap acuh tak acuh terhadap keadaan sekitar kita khususnya kekayaan alam yang dimiliki negri ini. Allah berfirman dalam surah Ar-Rum ayat 41 

Telah terjadi kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar meraka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Dalam ayat ini jelas bahwa Allah akan memberikan ganjaran bagi orang yang telah merusak apa yang ada di muka bumi ini. Kita boleh memanfaatkan sumber daya alam yang ada di negri ini namun, alangkah bijaknya jika kita memeliharanya juga.
            Nah, jelas sudah bahwa dalam menjalani hidup ini seyogyanya kita bersikap adil antara dunia dan akhirat. Kita sebagai hamba di hadapan Allah dan kita sebagai pemipin di negri ini. Kita lah yang memajukan negri ini salah satunya dengan memlihara dan menjaga apa yang dimiliki negri ini. Bangsa lain iri melihat kekayaan alam negri ini, sehingga mereka berusaha dengan berbagai cara untuk merebut bahakan untuk mencuri sedikit demi sedikit dari kekayaan alam negri nan subur ini.
 ***

 Penulis adalah Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UMSU

             

Kajian Feminimisme Terhadap Antologi Puisi Angin Kerinduan Karya Ria Ristiana Dewi


Kajian Feminimisme Terhadap Antologi Puisi Angin Kerinduan Karya Ria Ristiana Dewi
Oleh : Eva Juliyanti

Karya sastra terdiri dari dua jenis yaitu prosa dan puisi. Prosa merupakan karangan bebas dan puisi merupakan karangan terikat. Dalam sebuah karya sastra ada suatu penilaian, penilaian ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dalam karya sastra tersebut. Penilaian ini disebut dengan kritik sastra. Kritik sastra berasal dari bahasa Yunani yaitu “Krinien “ yaitu membandingkan, memprtimbangkan dan penghakiman terhadap suatu karya baik bernilai positive maupun negative. Kritik sastra merupakan salah satu cabang studi sastra yang penting dalam kaitannya dengan ilmu sastra dan penciptaan sastra.
Kritik sastra sebenarnya tidak banyak berbeda dengan apresiasi. Apresiasi lebih kepada penghargaan dan penikmat terhadap karya, sedangkan kritik sebagai penikmat, tetapi juga lebih diarahkan penilaian untuk menlihat kelemahan, kelebihan, kekuatan dan artistiknya sebuah karya. Apresiasi menerima karya sastra itu apa adanya, jika tidak suka akan ditinggalkannya, sedangkan krtitik akan tetap mengedepankan karya itu sampai kepada tingkat menghukum apakah karya itu bermutu atau tidak, bernilai atau berkurang.
Dalam kritik sastra ada dua jenis kritikan yaitu kritik umum dan kritik akademik. Kritik umum berarti seorang kritikus menilai sebuah karya sastra tidak menggunakan teori-teori, sedangkan kritik akademik adalah menilai dengan menggunakan pendekatan atau teori-teori. Seorang kritikus hendaknya dalam memberikan kritikan harus berdasarkan teori-teori atau pendekatan. Adapun pendekatan yang dapat digunakan sebagai pisau untuk membedah karya sastra tersebut, yaitu pendekatan antoprologi, pendekatan sosiologi, pendekatan structural, pendekatan stilistika, semiotika, pendekatan feminimisme, pendekatan hermeunetika dan pendekatan psikologi.
Dengan menggunakan pendekatan atau metodologi dalam mengkritik sebuah karya sastra tersebut dapat menentukan mutu, kekurangan dan kelemahannya. Saat ini banyak bermunculan sastrawan dari kalangan perempuan maka dari itu ada pendekatan yang sesuai untuk menelaah atau menilai karya sastra tentang keperempuanan. Pendekatan tersebut adalah pendekatan feminimisme.
Feminisme (tokohnya disebut Feminis) adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi  atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, mengacu pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan serta pergerakan untuk memperoleh hak-hak perempuan. Sekarang ini kepustakaan internasional mendefinisikannya sebagai pembedaan terhadap hak hak perempuan yang didasarkan pada kesetaraan perempuan dan laki laki.
Secara leksikal dan etimologi, feminisme berasal dari kata feminist yang berarti pejuang hak-hak kaum wanita, kemudian meluas menjadi feminism, yaitu suatu faham yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 410) feminisme merupakan gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Definisi secara leksikal ini telah membawa pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat.  Feminisme sebagai gerakan awalnya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi. Feminisme menjadi usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Akhirnya mereka sepaham bahwa hakikat perjuangan feminis adalah demi kesamaan, martabat, dan kebebasan mengontrol raga dan kehidupan, baik di dalam maupun di luar rumah.
Kaum feminimisme juga ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki kontribusi yang signfikan dalam meningkatkan ekonomi, selain menyandang sebagai ibu rumah tangga perempuan juga da[at berkarier dan bekerja memenuhi kebutuhan ekonomi.
TOKOH DALAM FEMINISME
1.      Foucault
Meskipun ia adalah tokoh yang terkenal dalam feminism, namun Foucault tidak pernah membahas tentang perempuan. Hal yang diadopsi oleh feminism dari Fault adalah bahwa ia menjadikan ilmu pengetahuan “dominasi” yang menjadi miliki kelompok-kelompok tertentu dan kemudian “dipaksakan” untuk diterima oleh kelompok-kelompok lain, menjadi ilmu pengetahuan yang ditaklukan. Dan hal tersebut mendukung bagi perkembangan feminism.
2.      Naffine (1997:69)
Kita dipaksa “meng-iya-kan” sesuatu atas adanya kuasa atau power Kuasa bergerak dalam relasi-relasi dan efek kuasa didasarkan bukan oleh orang yang dipaksa meng “iya”kan keinginan orang lain, tapi dirasakan melalui ditentukannya pikiran dan tingkah laku. Dan hal ini mengarah bahwa individu merupakan efek dari kuasa.
3.      Derrida (Derridean)
Mempertajam fokus pada bekerjanya bahasa (semiotika) dimana bahasa membatasi cara berpikir kita dan juga menyediakan cara-cara perubahan. Menekankan bahwa kita selalu berada dalam teks (tidak hanya tulisan di kertas, tapi juga termasuk dialog sehari-hari) yang mengatur pikiran-pikiran kita dan merupakan kendaraan untuk megekspresikan pikiran-pikiran kita tersebut. Selain itu juga penekanan terhdap dilakukanya “dekonstruksi” terhadap kata yang merupakan intervensi ke dalam bekerjanya bahasa dimana setelah melakukan dekonstruksi tersebut kita tidak dapat lagi melihat istilah yang sama dengan cara yang sama.
            Dalam pendekatam feminimisme ada lima citra yang dapat melihat sisi kepermpuanan dalam karya sastra, yaitu pigura, pinggan, pilar, peraduan dan pergaulan. Dalam antologi puisi Angin Kerinduan  dengan puisi berjudul Ibu dan Kartini karya Ria Ristiana Dewi.
            Ria Ristiana Dewi kelahiran di Aceh Utara 07 Maret 1989, meraih jenjang pendidikan di Medan mulai dari SD-Pergurun Tinggi. Alumni UNIMED ini aktivis di Komunitas Penulis Anak Kampus ( KOMPAK ) dan Laboraturium Sastra Medan ( LABSAS). Karya-karyanya sering muncul di surat-surat kabar yang ada di Medan, dan sering memenangkan perlombaan tentang sastra.
Dalam antologi puisi Angin Kerinduan  pengarang menyatakan bahwa angin membawanya kepada rindu terhadap karya-karya sastra pada zaman dahulu, sekarang dan akan datang. Puisi-puisinya pun berkaitan erat dengan perasaan, terutama ketika menspesifikkan puisinya untuk seseorang, misalnya ibu, ayah, ataupun kepada :khair terasa sekali puisinya tersemat pesan mendalam yang dibalut oleh makna pada tiap kata-katanya.
            Ria ini sangat optimis dalam menjalani kehidupannya, ini dapat dilihat dari beberapa puisi yang ia tulis tentang semangat yaitu  Wilayah Juang . Selain itu, jiwa nasionalismenya juga tinggi dapat dilihat dari  beberapa puisi yang ia ciptakan bernuansakan keadaan negri ini yaitu Negaraku Merdeka, Kerikil Negaraku  dan ia menulis tentang para tikus di Negara ini yaitu  Wajah Kedok , Penipu itu/1, Penipu itu/2 dan Penipu itu/3.
Ada beberapa judul puisi yang memberikan kesan pada para pembaca, sehingga sulit melupakan karya Ria Ristiana Dewi, karena karyanya yang luar biasa bercerita fakta, meskipun puisi sederhana, tapi mengandung makna. Hal ini diterima pembaca karena menyatu masuk ke tiap individu yang membacanya. Seolah penulis tahu, karyanya sesuai dengan kenyataan yang pernah dialami pembaca, misalnya halaman 41 puisi yang berjudul Ibu, dan halaman 50 puisi yang berjudul Ibuku dan Kartini dan Salam Kepada Mamak halaman 93.
            Menyuapi senanak sayangmu kutau kaulah raga
Contohku
Ragamu mengandungku Sembilan bulan
( baris ketujuh puisi Ibu)
Puisi ini menggambarkan sesosok wanita kuat dan tegar menghidupi keluarganya walaupun dengan status single perents dan wanita kuat itu telah menuntun, menjadi penerang jalan kehidupan anak-anaknya.
Sebuah selendang hitam mengukur wajah senjamu
Tentu kau masih pelita
Untuk belia sedang menyongsong ini
Kau terangi langkahku menganut senyum
( bait pertama puisi Salamku kepada Mamak)

            Wanita yang sudah tua namun tetap semangat dalam mengayomi pelita hatinya untuk menyongsong dunia yang gelap ini. Usia tidak menjadi masalah bagi perempuan itu untuk berganti peran sebagai seorang Ayah juga seorang Ibu.Ia sebagai penopang dalam keluarganya mencari nafkah juga mendidik anak-anaknya.
Keindahan wanita pengarang meletakkannya pada puisi berjudul  IbuKu dan Kartini “ Wanita-wanita surga dengan keindahan dunia”. Pada kata Wanita-wanita surga, ini menunjukkan bahwa wanitu itu cantik karena berada di tempat yang sangat indah. Wanita yang cantik dalam konteks wanita cantik luar dan dalam. Hanya wanita yang dapat membuat iri para bidadari-bidadari surga, namun wanita yang soleha.
 Sedang kau terus di sana tersenyum
Lewat tembang kamboja
( bait kedua puisi Ibuku dan Kartini)
Pada puisi di atas juga digambarkan seorang wanita yang cantik, wanita yang selalu tersenyum walaupun hatinya menangis. Itulah wanita seberat apapun penak yang menghujam hatinya saat itu, ia tetap menunjukkan senyuman terindahnya kepada siapa saja yang melintas di hadapannya.
Bu, Kartini sedang memintaku meneguk cahaya
Yang Sarat dengan mimpi beraduk dengan cita dan cinta.
( bait pertama puisi Ibuku dan Kartini )
Masih dari puisi Ibuku dan Kartini terdapat pesan bahwa Kartini ingin memerintahkan wanita untuk bangkit meraih cita-cita kita, kita tidak boleh kalah dengan kaum laki-laki yang seakan-akan menyepelehkan kaum laki-laki. Dengan adanya emansipasi wanita dapat menyamakan hak dengan kaum laki-laki karena wanita juga dapat menyumbangkan kontribusi yang besar terhadap perkembangan ekonomi.
Namun, wanita juga tidak boleh melupakan kewajibannya sebagai alat pemuas kaum pria dan pelayan rumah tangga. Wanita tetap melaksanakan kewajibanya sebagai seorang istri unutuk suaminya dan ibu untuk anak-anaknya. Meskipun jabatan perempuan di luar konteks keluarga tinggi dibandikngkan dengan laki-laki sebagai suami maka di dalam rumah tangga wanita harus sebagai pelayan bagi suaminya.
Saat ini kaum wanita sudah mulai dilemahkan, banyak pelecehan-pelecehan seksual, aksi pornoaksi, penganiayaan terhadap ibu rumah tangga dan sebagainya. Ironis memang seorang perempuan diperbudak dan dianiaya seperti ini. Para TKI sudah banyak menjadi korban, bahkan banyak yang meregang nyawa di Negara tetangga. Walupun dewasa ini banyak forum atau lembaga yang melindungi para TKI dan wanita dari penganiayaan dan pelecehan seksual namun, banyak pula korban berjatuhan.
Maka dari itu, dalam puisi ini si pengarang ingin mengajak para wanita untuk membebaskan diri dari kata penganiayaan dan lain sebagainya itu.
Ada yang tak mampu menyusui pun ada pula tubas
Terperas deras
( bait kedua  puisi Ibuku dan Kartini )
            Bait puisi di atas menggambarkan bahwa seorang wanita yang tidak punya anak , namun setelah mendapatkan seorang anak, anak tersebut menjadi boomerang dalam hidupnya. Anak yang sudah diasuh dan dimanja sejak lahir hingga dewasa ketika dewasa tak dapat membalaskan belas kasih seorang ibu.
            Hal ini banyak terjadi saat ini, banyak anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tuanya terutama ibu. Padahal restu Allah terletak pada restu orang tua juga. Jika kekasih ada mantan namun orang tua tidak ada mantan, sampai kapanpun orang tua tetap lah orang tua kita. Bahkan, kelak yang akan menolong kita di dunia kekal adalah orang tua kita, orang tualah yang bertanggung jawab atas semua perbuatan kita.
            Antologi puisi Angin Kerinduan yang merupakan puisi modern ini menginspirasi kita semua untuk tetap semangat dalam menjalani hidup ini. Si pengarang meletakkan wanita di tempat yang terhormat.

* **
Penulis adalah Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia UMSU
















Selasa, 30 April 2013

Resensi Novel " 5 Cm "



 
BAB I

PENDAHULUAN   
1.1.         Latar Belakang
Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda, Resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah.
Seiring banyaknya karya-karya yang muncul saat ini baik itu drama, puisi, novel ataupun sebuah buku menimbulkan kritikan-kritkan akan karya tersebut. Sebuah karya dikatakan berhasil jika mendapatkan respon ataupun tanggapan dan dapat mempengaruhi pembaca ataupun penonton, pengaruh tersebut bisa positive maupun negative. Sebuah karya yang baik adalah sebuah karya yang bermanfaat bagi pembaca atau penonton.
Pengaruh yang ditimbulkan dari karya tersebut akan menghasilkan kritkan atau komentar dari pembaca atau penonton baik itu kritikan yang membangun maupun menjatuhkan. Kritikan tersebut dapat dituangkan dengan cara merensesi sebuah karya tersebut dan orang yang membuat resensi disebut resensator. Dengan meresensi karya tersebut pembaca atau penonton dapat menemukan kelebihan dan kekurangan dari sebuah karya tersebut karena kelebihan dan kekurangan sebuah karya itu merupakan objek resensi.
Resensator dalam  membuat resensi harus membaca karya tersebut dan harus mempunyai pengetahuan yang memadai khususnya terhadap karya yang akan diresensi. Tujuan resensi ini memberikan informasi kepada masyarakat akan kehadiran sebuah kaya tersebut apakah ada hal yang baru atau biasa saja, dan apakah bermanfaat atau tidak. Dalam menilai sebuah karya tersebut haruslah bersifat objektif bukan subjektif yaitu menurut selera pribadi si pembuat resensi tersebut.





 
 

1.2.         Permasalahan
Banyak karya yang dapat diresensi oleh resensator baik  buku, novel, drama, cerpen, film atau karya sastra yang lainnya. Dalam merensensi karya tersebut tidak ada perbedaannya karena mempunyai unsur-unsur yang sama Dalam hal ini penulis akan membahas tentang resensi novel “ 5 Cm “ karangan Dhonny Dhirgantoro.
Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya dalam meresensi sebuah karya hendaknya penulis bersifat objektif dalam penilaian dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi karena itu merupakan kepentingan umum dan resensator hendaknya mempunyai wawasan yang memadai khususnya pada karya yang akan diresensi tersebut.
Dalam hal ini penulis akan meresensi novel berjudul “5 Cm”, novel ini di tulis oleh Dhonny Dhirgantoro pada tahun 2005 diterbitkan oleh Grasindo .Novel karangan Dhonny ini berceritakan tentang 5 sahabat yaitu  Arial, Riani, Zafran, Ian dan Genta. Novel  ini mengajarkan tentang harapan, impian, tekad, cinta dan persahabatan Novel ini merupakan novel pencetak rekror Betseller Book di Gramedia Bookstore selama 2 tahun kemudian novel ini diadaptasi menajdi sebuah film dengan judul yang sama pada tahun 2012 tidak jauh beda dengan novelnya film ini merupakan salah satu film yang mendapatkan antusias yang tinggi dari penonton khususnya kalangan remaja. Film ini di sutradarai oleh Rizal Mantovani.

1.3.         Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis dapat merumuskan beberapa tujuan, yaitu :
1.      Mampu menjelaskan resensi
2.      Mampu mengidentifikasi langkah-langkah membuat resensi novel
3.      Mampu memaparkan resensi novel “5 cm”
Resensi ini dibuat agar para pembaca mengetahui kelebihan dan kelemahan yang dimiliki oleh novel ini. Resensi merupakan jembatan penulis untuk menyampaikan pesan yang ada dalam karya tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.         Pengertian Resensi
Secara etimologis, kata resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Kedua kata tersebut berarti melihat kembali, menimbang, atau menilai. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Berbagai istilah tersebut mengacu kepada hal yang sama yaitu mengulas sebuah buku.
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia resensi adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang buku; ulasan buku (majalah itu memuat), (buku-buku yang baru terbit).(2007 : 195)
            Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah karya atau buku. Dengan demikian resensi  dapat dikatakan sebagai suatu komentar atau ulasan seorang penulis atas sebuah hasil karya baik buku, film, karya seni maupun produk yang lain. Misalnya, buku karya ilmiah, laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, novel, cerpen , drama, dan sejenisnya dapat diresensi.
            Resensi adalah timbangan buku yaitu suatu penilaian serta pembicaraan tentang sebuah buku, baik fiksi maupun nonfiksi mengenai segala kelebihan dan kelemahan yang terletak dalam buku.
            Jadi, resensi adalah suatu komentar atau ulasan terhadap suatu karya baik itu fiksi maupun nonfiksi, komentar tersebut berisikan kelebihan, kelemahan dan manfaat yang ada dalam karya tersebut. Dalam memberikan komentar penulis resensi atau resensator itu harus bersifat objektif dan berpengetahuan memadai.

2.2.         Tujuan Menulis Resensi
Seorang penulis resensi atau resensator dalam membuat resesnsi pasti mempunyai tujuan. Adapun tujuan resensi adalah sebagai berikut :
a.       Resensator ingin menjembatani keinginan atau selera penulis kepada pembacanya.
b.      Resensator ingin menyampaikan informasi kepada pembaca apakah sebuah atau hasil karya yang diresensi itu layak mendapat sambutan masyarakat atau tidak.
c.       Resensator berupaya memotivasi pembacanya agar membaca karya atau bukunya itu secara langsung.
d.      Resensator dapat mengkritik, mengoreksi dan memperlihatkan kualitas buku atau karya, baik kelebihan atau kelemahan.
e.       Resensator berharap memperoleh honorarium atau imbalan dari media cetak yang memuat resensinya, baik majalah maupun surat kabar.
f.       Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
g.      Menjawab pertanyaan yang timbul jika seseorang melihat buku yang baru terbit seperti: siapa pengarangnya, mengapa ia menulis buku itu, bagaimana hubungannya dengan buku-buku sejenis karya pengarang yang sama, dan bagaimana hubungannya dengan buku sejenis karya pengarang lain?

2.3.         Cara Menulis Resensi
Menulis resensi berarti menyampaikan informasi mengenai ketepatan buku bagi pembaca. Di dalamnya terdapat berbagai ulasan mengenai buku atau karya tersebut dari berbagai segi. Ulasan ini dikaitkan dengan selera pembaca dalam upaya memenuhi kebutuhan akan bacaan yang dapat dijadikan acuan bagi kepentingannya. Penulis resensi harunya memperhatiakn hal-hal berikut ini :
1.      Landasan Filosofis Penulisan
Keinginan penulis tidak semua tertuang dalam karangannya, misalnya misi, visi dan hakikat penulisan tidak seluruhnya dituangkan dalam karangannya. Untuk itu penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang aslinya dan penulis resensi harus menyadari sepenuhnya apa maksud dia menulis resensi tersebut.Untuk mengetahui hal tersebut, penulis resensi perlu mengkaji landasan filosofis yang dijadikan dasar penulisan.

2.      Harapan Pembaca
Setelah membaca resensi, diharapkan pembaca akan merasa terbantu mendapatkan informasi yang diperlukan. Pembaca akan melihat gambaran keseluruhan isi, informasi tentang buku atau karya dan kualitas tanpa melihat dahulu buku atau karya tersebut secara langsung.
3.      Harapan Penulis dan Pembaca
Resensi berusaha mengkomunikasikan harapan pembaca dan penulis akan adanya buku atau karya yang berkualitas. Itulah sebabnya, penulis resensi harus menginformasikan sasaran dan target yang diharapkan penulis bagi pembacanya.
4.      Materi Tulisan
Penulis resensi harus memaparkan materi yang ada dalam buku atau karya yang akan mencapai target sasaran pembacanya. Dia harus dapat menjembatani kemauan penulis dan keinginan pembaca.

2.3.1    Langkah-langkah Meresensi Sebuah Karya
            Langkah-langkah dan teknik meresensi sebuah karya  lazimnya mengikuti tahapan berikut :
a.       Perkenalan atau pejajakan terhadap buku yang diresensi mulai dari tema, penerbit, pengarang dan golongan buku.
b.      Membaca buku yang akan diresensi secara komprehensip, cermat dan teliti.
c.       Menandai bagian  buku dan menentukan bagian-bagian yang akan dikutip.
d.      Membuat synopsis
e.       Menilai kerangka penulisan, isi pernyataan dan aspek buku atau karya yang akan diresensi.
Untuk meresensi sebuah novel, kita harus memahami unsure-unsur pembangunnovel yang meliputi :
1.      Tema
Tema adalah makna yang terkandung dalam novel.
2.      Tokoh dan Penokohan
Tokoh mengacu pada orang atau pelaku cerita, sedangkan dalam penokohan adalah watak yang diletakkan pada tokoh tersebut.
3.      Cerita
Cerita novel tidak hanya meliputi cerita-cerita fisik seperti, perampokan, pembunuhan dan kematian mendadak, tetapi juga peristiwan kejiwaan.
4.      Alur
Peristiwa-peristiwa dalam sebuah novel biasanya berkaitan secara kronologis dan langsung diungkapkan secara berurutan dari awal sampai akhir cerita.
5.      Bahasa
Bahasa novel dapat dibagi menjadi dua. Pertama, bahasa yang bersifat puitis. Fungsinya untuk mendukung konteks mana atau untuk menimbulkan keindahan. Kedua, bahasa yang bersifat prosaic. Artinya, menggunakan ungkapan sehari-hari dan cenderung tidak memperhatikan unsure puitis.
            Setelah kita mengetahui unsur-unsur novel, berikut ini merupakan unsur-unsur yang menjadi bagian dari resensi. Unsur-unsur yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Judul resensi
Cara membuat merumuskan judul resensi dengan membuat synopsis dan memahami inti sari. Dengan demikian, kita memperoleh gambaran menyeluruh mengenai isi resensi.
2.      Identitas/ data buku. Data buku terdiri atas :
a.       Judul buku
b.      Pengarang
c.       Penerbit
d.      Tahuin terbit beserta cetakannya
e.       Tebal buku, dan
f.       Harga buku
3.      Pembukaan
Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut :
a.       Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja dan prestasi apa yang pernah diraih.
b.      Membandingkan dengan buku sejenis yang pernah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun pengarang lain.
c.       Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang.
d.      Memaparkan keunikan buku
e.       Merumuskan tema buku
f.       Mengungkapkan kesan terhadap buku
g.      Memperkenalkan penerbit.
4.      Tubuh atau Isi Pernyataan Resensi Buku
Dalam tubuh buku biasanya memuat hal-hal berikut :
a.       Sinopsis adalah ringkasan buku berisi pokok isi buku secara garis besar.
b.      Ulasan singkat dengan kutipan secukupnya
c.       Keunggulan buku
d.      Kelemahan buku
e.       Rumusan kerangka buku
5.      Tinjauan Bahasa
Menerangkan bahasa yang digunakan oleh pengarang, apabila bahasanya lugas, sederhana dan mudah dipahami ataukah bahasnya berbelit-belit.
6.      Penutup

2.4.         Resensi Novel “5 cm”
Judul Buku      :  5 cm
Penulis             :  Dhonny Dhirgantoro
Penerbit           :  PT. Grasindo
Tahun tebit      :  Mei 2005
Tebal buku      : 381 halaman
Harga buku     : Rp. 56.000,00


2.4.1    BIOGRAFI SINGKAT PENULIS
Donny Dhirgantoro lahir di Jakarta 27 Oktober 1978. Sulung dari empat bersaudara ini menghabiskan seluruh waktu kecilnya hingga besar di Jakarta. Menyelesaikan masa-masa putih abu-abu di SMU 6 Jakarta, sekolah yang sampai saat ini masih dibanggakan karena kenangan-kenangan yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kegemaran menulis dan membaca sudah ada semenjak mulai bisa menulis dan membaca, konon hal ini akibat sang Papa meletakkan banyak buku disekitar ari-ari putra sulungnya.
Selepas SMU, ia melanjutkan studi di STIE Perbanas Jakarta dan ikut aktif dalam segala kegiatan kampus. Pengalaman gagal mendapatkan beasiswa pada salah satu kegiatan pelatihan kampus tidak membuatnya putus asa, tetapi pada tahun berikutnya justru mengantarnya menjadi ketua penyelenggaranya.Bersama teman-teman lain, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari kampus. Saat-saat terbaik sebagai mahasiswa adalah ketika bergabung dalam barisan menegakkan reformasi tahun 1998, yang membuatnya bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar ini.

2.4.2    SINOPSIS
Buku 5cm ini menceritakan tentang persahabatan lima orang anak manusia yang bernama Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Dimana mereka memiliki obsesi dan impian masing-masing. Arial adalah sosok yang paling ganteng diantara mereka, berbadan tinggi besar. Arial selalu tampak rapi dan sporty. Riani adalah sosok wanita berkacamata, cantik, dan cerdas. Ia mempunyai cita-cita bekerja di salah satu stasiun TV. Zafran seorang picisan yang berbadan kurus, anak band, orang yang apa adanya dan kocak. Ian memiliki postur tubuh yang tidak ideal, penggila bola, dan penggemar Happy Salma. Yang terakhir adalah Genta. Genta selalu dianggap sebagai “the leader” oleh teman-temannya, berbadan agak besar dengan rambut agak lurus berjambul, berkacamata,aktivis kampus dan teman yang easy going.
Lima sahabat ini telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Suatu ketika mereka jenuh akan aktivitas yang selalu mereka lakukan bersama. Terbesit ide untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama tiga bulan. Ide tersebut pun disepakati. Selama tiga bulan berpisah itulah terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya. Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan dirayakan dengan sebuah perjalanan.
Dalam perjalanan tersebut mereka menemukan arti manusia sesungguhnya.
Perubahannya itu mulai dari pendidikan, karir, idealisme, dan tentunya love life. Semuanya terkuak dalam sebuah perjalanan ‘reuni’ mereka mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru. Dan di sanalah cerita bergulir, bukan hanya seonggok daging yang dapat berbicara, berjalan, dan punya nama. Mereka pun pada akhirnya dapat menggapai cita-cita yang mereka impikan sejak dulu.
 Setengah dari buku 5 cm. bercerita tentang keseharian lima sahabat ini, dari sifat-sifat mereka yang berbeda satu dengan yang lain sampai dengan perilaku dan aktifitas mereka yang penuh canda tawa, diselingi cerita tentang permasalahan antar-sahabat. Setengahnya lagi, buku ini menuliskan petualangan kelima sahabat dalam mendaki gunung Semeru.
”…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kamu. Dan…sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa, percaya pada 5 centimeter di depan kening kamu.”

2.4.3    ANALISIS INSTRINSTIK TOKOH DAN PENOKOHAN
1. Arial : Di dalam novel, Arial digambarkan sebagai orang yang sporty, selalu tampil rapi dan simpel. Arial adalah sosok yang tenang, pembawaannya selalu senyum, jarang mengejek, asik, cool, dan pembawa suasana ramai karena jika tertawa suaranya paling keras. Kutipan dalam nvel “..,pokoknya sporty deh, Arial yang selalu rapi…”
“Arial adalah orang yang simpel-simpel saja, tapi ia kebanggaan seluruh tongkrongan karena hanya dia yang bisa tenang, pembawaanya banyak senyum, dan jarang khilaf.”
“... orang yang biasa saja, tapi asik, jarang nyela, jarang bercanda tapi kalo tertawa paling keras, makanya kala ada dia jadi ramai.”

2. Riani : Di dalam novel ini, Riani adalah gadis berkacamata, cantik, cerdas dan mengutamakan prestasi. Pribadi yang memiliki karisma, selalu dominan dimana-mana, cerewet dan tidak mau kalah dengan siapapun juga. Riani seorang aktivis kampus yang gemar membaca dan banyak belajar. Dia juga suka berdebat.
Kutipan dalam novel “ Riani palai kacamata, cantik, cerdas dan seorang       N-ACH Sejati. Dia punya semacam karisma yang bisa bikin orang menengok. Selalu dominan dimana-mana, cerewet dan nggak mau kalah sama siapapun juga. Riani seorang aktivis kampus. Siapa aja dan apa aja bisa didebatnya, soalnya dia banyak dan banyak belajar.”

3. Zafran : Didalam novel, tokoh zafran termasuk orang yang pandai membuat puisi, pintar. Zafran punya kelakuan yang berantakan . Zafran adalah orang yang akan bilang apa saja yang ingin dia bilang. Tokoh zafran memiliki tubuh yang kurus dan berperan sebagai vokalis band.
Kutipan dalam novel “ Seorang penyair yang selalu bimbang. Kesan kedua buat para cowok pasti punya persepsi nih anak pintar banget. Zafran punya kelakuan yang berantakan, yang katanya standard seniman. Zafran adalah orang yang akan bilang apa saja yang dia mau bilang.
 
4. Ian : Didalam novel, ian adalah tokoh yang gila bola, ia juga senang tantangan dan suka makan terutama indomie. Selain itu, Ian juga gemar mengoleksi film orang dewasa ( 17 tahun ke atas ).
Kutipan dalam nove; “ Apa saja tentang bola dia tahu dan kebanyakan menghabiskan waktunya buat bola. Untuk membeli “ piece of lust ” kalau diterjemahkan ke bahasa ilmiah adalah “ VCD Bokep”. Ian ngefans sama indomie, Manchester United dan Happy Salma.”

5. Genta : Di dalam novel ini, Genta adalah pemimpinnya. Genta begitu menyukai Riani. Genta adalah orang yang peduli terhadap orang lain, ia lebih mementingkan orang lain dibanding dirinya sendiri. Genta adalah sosok yang baik, seorang aktivis kampus. Dia sangat dikagumi teman-temannya.
Kutipan dalam novel “ The Leader, enggal ada yang tahu kalau Genta ngefans sama Riani. Genta aktvis kampus.”

2.4.4    TEMA
Persahabatan lima anak muda yang mempunyai kekuatan dan keajaiban mimpi dan keyakinan

2.4.5    LATAR BELAKANG
Tempat            : Jakarta, Yogyakarta, Bogor
Rumah Arial    : Kamar Arial, Secret Garden SMA
Stasiun                        : Kerta Api Senen dan stasiun Lempuyungan Yogyakarta.
Ranu Pane, Ranu Kumbolo dan Puncak Mahameru.
Waktu             : Setiap saat (Pagi sampai malam)
Suasana           : Menyenangkan, Mengharukan dan Menegangkan.

2.4.6    ALUR
Dilihat dari cerita Novel ini, 5 centimeter termasuk alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa depan.

2.4.7    SUDUT PANDANG            
Sudut pandang adalah cara atau pandangan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Dalam Novel 5 centimeter sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga tunggal.

2.4.8    AMANAH

1. Kita harus menanamkan satu keyakinan pada diri kita bahwa tidak ada yang tidak bisa di dunia ini kecuali keyakinan yang menganggap bahwa kita tidak dapat melakukan hal tersebut.
2. Jangan menganggap kritik suatu kemunduran atau serangan. Tapi, kalau kita dikritik buat cetak biru dipikiran kita. Kalo kritik itu adalah pengorbanan dari seseorang yang mungkin telah mengorbankan rasa nggak enaknya sama kita, entah sebagai teman atau rekan kerja. Tapi sebenarnya hal itu semata-mata untuk membuat diri kita lebih baik.
3. Sebaik-baik manusia dalam hidupnya adalah apabila ia menjadi manusia yang bisa memberi manfaat bagi orang lain bukan orang yang mementingkan diri sendiri dan terlalu mencintai dirinya sendiri.
4. Jadikan mimpi kita menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kita, biar dia nggak pernah lepas dari mata kita.Dan kita bawa mimpi dan keyakinan kita itu setiap hari, kita lihat setiap hari, dan percaya bahwa kita bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kita sendiri, kalau kita percaya sama keinginan itu dan kita nggak bisa nyerah. Bahwa kita akan berdiri lagi setiap kita jatuh, bahwa kita akan mengerjarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri. Dan yang kita butuhkan Cuma lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa.
5. Janganlah menjadi manusia yang diatur oleh keadaan dan merasa kalah sama keadaan. Tapi, jadilah manusia yang beranggapan bahwa dirinyalah yang harus mengatur keadaan, bukan dirinya yang diatur oleh keadaan yang harus selalu jadi kalimat aktif selalu pakai awalan me- bukan kalimat pasif yang selalu pake awalan di-.
6. Tuhan memberi kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih. Selanjutnya tinggal masalah pilihan. Itulah mengapa Tuhan sayang sama makhluknya. Ia menjaga tingkat ketidakpastian-Nya, ketidakpastian alam semesta ini dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian, supaya kita terus belajar tentang apa saja hingga akhirnya kita bermuara pada-Nya. Sesungguhnya manusia memang diberi kebebasan memilih. Memilih dipersimpangan-persimpangan kecil atau besar dalam sebuah Big Master Plan yang telah diberikan Tuhan semenjak kita lahir. Jadi semuanya ke masalah pilihan.
7. Terimalah dengan apadanya kekurangan dan kelebihan yang dimiliki sahabat kita. Tidak semua orang memiliki nilai plus seutuhnya. Nilai plus tersebut pasti akan selalu didampingi dengan nilai minus. Tinggal bagaimana cara kita sebagai teman untuk menutupi kelebihan dan kekurangan teman kita.

2.4.9    GAYA BAHASA
Bahasa yang digunakan dalam novel 5 centimeter adalah bahasa yang mengikuti perkembangan zaman sekarang(modern) dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang sehingga novelnya dapat dengan mudah dimengerti.

2.4.10  KEKURANGAN DAN KELEBIHAN NOVEL
a.         Kelebihan Novel  
Kelebihan buku ini adalah ceritanya yang menarik, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan alur cerita yang tidak membosankan sehingga pembaca ingin membaca buku ini hingga halaman terakhir. Pesan moral yang disampaikan pun sangat baik sehingga memotivasi pembaca agar bisa mengejar impian mereka dan membuat jadi nyata.
Buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro dengan sampul hitam legam. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas tetapi setelah saya baca ternyata, Buku 5cm mempunyai karakter yang cukup kuat, penuh dialog-dialog yang filosofis, dan berisi kisah-kisah yang inspirasional, dan novel ini sebenarnya cukup bagus, idenya menarik, tentang persahabatan.
Kehebatan penulis terlihat sekali saat menggambarkan dengan detail perjalanan dari Jakarta (stasiun Senen) sampai ke atas puncak Mahameru. Pembaca bagaikan berada di sana, merasakan dinginnya Ranu Pane, indahnya Ranu Kumbolo, mistisnya Kalimati, dan menakjubkannya puncak Mahameru.
Dalam novel ini sangat banyak memuat hal yang berkaitan dengan jiwa para generasi muda, filosofi, idealisme, dan terutama musik yang intensitasnya sangat sering disebut disertai dengan lirik-lirik lagunya. Nuansa jiwa muda sangat kentara di 5 cm, semangat dan tekad yang selalu membara mengiringi setiap langkah kumpulan sahabat dalam novel ini. Sekelompok manusia yang tidak hanya hidup berfoya-foya tetapi meresapi makna kehidupan yang mereka jalani. Sebuah novel yang dapat menambah motivasi dan kepercayaan diri untuk bias meraih impian dengan bekal semangat dan tidak kenal lelah.Bagi pemuda, 5 cm sangat mudah dipahami dari segi bahasanya karena menggunakan bahasa-bahasa familiar kaum muda.
b.         Kekurangan Novel
Cerita akhir novel ini terasa begitu dipaksakan dengan pembentukan keluarga antara sahabat-sahabat tersebut ditambah dengan keturunan mereka yang begitu sama mewarisi sifat-sifat orangtuanya dan semuanya sebaya, seumuran. Bagi saya, akhir cerita di novel ini terlalu naif. Sekelompok sahabat itu masih saja mempunyai “ruh” kaum muda meski sudah memiki keturunan dan hal tersebut terasa juga pada anak-anak yang masih TK tetapi “jiwa”nya berjiwa kaum muda dewasa. Kedua hal tersebut membuat pembaca sulit membedakan mana yang menjadi anak dan mana yang menjadi bapak, mana yang pemuda dan mana pula yang anak-anak.
Bahasa yang begitu kental dengan dunia musik menjadikan sebagian pembaca yang hanya biasa saja mengerti musik akan sulit memahami tokoh dalam novel. Sepertinya penulis ingin mennunjukkan dirinya daripada tokoh karyanya seperti yang disebut dalam novel tersebut yang mengatakan bahwa sang tokoh percaya “lupus sebenarnya tidak suka makan permen karet tetapi yang suka adalah Hilman sang pengarang. Begitu pula 5 cm bahwa geng anak muda itu sebenarnya tidak suka musik tetapi mas Donny Dhirgantoro lah yang sangat maniak musik.
BAB III
PENUTUP
3.1    KESIMPULAN
Dengan banyaknya karya-karya yang bermunculan saat ini menimbulkan berbagai tanggapan dan respon dari penikmatnya, baik itu pembaca maupun penonton. Sebuah karya dikatakan berhasil atau sukses jika karya tersebut mendapat respon atau tanggapan baik positif maupun negative dari penikmatnya dan mendatangkan mendatangkan manfaat bagi penikmatnya. Sakah satu cara untu mengapresiasikan bentu respon dari penikmat itu dapat berupa membuat reseni.
Resensi itu merupan komentar atau ulasan dari seorang penikmat baik itu pembaca atau penonton sebuah karya tersebut. Dalam memberikan respon atau tanggapan tersebut hendaknya penulis resesnsi tersebut mempunyai pengetahuan yang memadai dan haruslah menggunakan penilaian yang objektif bukan karna kepentingan pribadi semata.
Novel “5 cm ” yang ditulis oleh Dhonny Dhirgantoro ini mengisahkan persahabatan 5 insan manusia. Novel ini mengajak kita untuk menggantungkan mimpi kita di hadapan kening kita dengan jarak 5 cm. Mimpi itu akan kita bawak kemana dan di manapun kita berada.

3.2        SARAN
Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tulisan ini dengan tepat waktu. Penulis dapat menyelesaikan tugas ini tidak terlepas dari doa dan bantuan pihak-pihak terkait. Dan penulis menyadari tulisan ini jauh dari kata sempurna, maka untuk penyempurnaan makalah ini penulis mengharapkan kritik dan saran.