Mengupayakan keberhasilan adalah juga OTOMATIS upaya menghindari kegagalan

Sabtu, 18 Januari 2014

Soft Words for Tears

As if it's a badge of honor, I thought.
It was Tuesday morning, and I was a little distraught that no one actually came to pick me up fromMasungkang. So instead of teaching there, I came to school anyway, and I was greeted by the children, "Pak tidak ke Masungkang?"
I evaded the question, heading straight to the teachers' room. And found myself face-to-face with Pak Nurhuda, slated to teach English to the sixth and fourth graders that morning. Him and nobody else. No headmaster in sight, and the other teachers wouldn't arrive until a bit later.
So we ended up talking about how a good headmaster would've been present in the office at 7 am everyday, checking the teaching plans his teachers would've submitted him for authorization before they put that plans to life. He wouldn't have been content when his teachers reported to him that kid A or kid B has troubles, or had been making troubles. He'd call those kid to his office, and giving them counseling himself.
No, he would't have dished out corporal punishment, he'd nudge them with soft words that would go straight to the heart and make the kid weep without him needing to lay a finger.
I actually agree to everything he said, up to the corporal punishment bit. But I'm not so sure about the weeping kid part. The thing is, Pak Nurhuda spoke of it with such reverence that I could not help but sprinkle a couple grains of salt to what he said.
It's just that I've had my students wept, then surreptitiously wiped their eyes, and proceeded to openly weep for so many times this past year. All with nothing else but words. And it never fails to make me feel bad about myself.
And if you wondered whether these weepings were the result of their friends teases and pokes, these weren't. I was only considering the tears that I made them cry. All with nothing else but words.
If that ability is such a wonderful thing, then why, I ask, doesn't it feel wonderful?
So no, I don't prance around with those experience, as if it's a badge of honor.
If anything, when it happens, it made me wonder if I had been fit to teach them. If anything, they made me wonder if I had not been a failure.
There was a day when I made half of the girls in the third grade weep, after I made them recite from memory Sumpah Pemuda in turn. I made them do little else but recite them word for word. When they stumbled, or faltered, or forgot a word, I ask them to recite the whole pledge again. From the beginning.
After several tries, they were visibly frustrated, and so was I. Hadn't they been paying attention? Why did they keep on forgetting the words? It was five to one pm already and there are still students who couldn't recite the pledge. I was at my wit's end. I was this close to implode, and Apri's tantrum from beyond the fifth grade partition was not helping any matter.
I went home absolutely drained afterwards.
There was also this time when I made Rizki, Andrian and Ayu forwent recess because they hadn't done their math homework. The punishment was simple: they had to stay indoor and did 30 math problems like the ones they didn't do. They ended up working on the problem by my desk at the teachers' office, and I spotted once or twice Ayu and Rizki blinked and wiped their eyes to their sleeves, leaving streaks of tearstrain.
Recess ended, and I sent them back to the classroom. Ayu put her head on the desk the whole time, and Niluh, her desk mate told me that Ayu had been feeling unwell then.
There must have been a way for everything to go the way everyone said the ideal lesson: the lessons fun, the pupils understand, the teacher proud. All that while the kids are all able to actively take part in the activities, well behaved and aware of their duties and responsibilities. It hadn't been the condition of my classroom. It hasn't been.
Really, it has been a pandemonium every other day.
Because even in the days when I was in good humour, and the lessons were enjoyable, you can count on Murphy's law to predict that it had to be days when the children are unruliest. Fights, scuffles, and kerfuffles virtually guarantees that one of them will end up weeping, with the other sulking when I made him apologize to his friend.
Faced with incidents like these means that there are only three alternatives to take. One is succumbing to the insanity of the pandemonium. Two is detaching self from the students and letting one becomes an apathetic cynic. Three is constant re-evaluation.
Of the three, I believe only the latter alternative is worth considering, because I value my sanity (who doesn't?), and thus the first alternative can be scratched off. The second alternative is no course an educator worthy of the job in good conscience should even consider. Not only one becomes no longer fit to bear the title of an educator when one is apathetic toward one's students, but that very apathy is the undoing of the education itself.
So only alternative three remains: constant re-evaluation on our part. Of what works, of what doesn't to temper the children's tantrums, to scoot my class one inch closer to the ideal classroom. To educate them.
And to likewise learn from them in the process.
oleh Masyur Aziz Hilmy

Merajut Mimpi Pemuda Rote

“Bermimpilah setinggi mungkin, karena mimpi itu gratis. Biarkan pensil anda menuliskannya di selembar kertas, dan serahkan kepada Tuhan untuk menebalkan mimpi itu, agar suatu saat ia menjadi nyata.” -Anies Baswedan-

                Sebuah pesan sederhana yang membangkitkan semangat saya di suatu siang menjelang sore pada Hari Pahlawan beberapa waktu lalu berasal dari Bapak pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan. Beliau memberikan pesan tersebut di akhir pembicaraan teknologi yang dibuat oleh Alexander Graham Bell. Memang, berkilo meter kami terpisah, tapi semangat yang disampaikan beliau kepada pemuda Rote menjadi cambuk keras agar mereka berjuang untuk masa depannya.
Aula yang beratapkan daun lontar itu menjadi saksi atas 60 peserta Kemah Pemuda Rote yang diadakan oleh Komunitas Anak Muda Rote Ndao (Kamu Rote Ndao) dan Pengajar Muda 6 Indonesia Mengajar. Tak pelak, acara yang dihelat selama dua hari, 9-10 November 2013 itu menjadi serangkaian tangan Tuhan yang mempertemukan kami dengan anak muda berapi-api yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Kami menjadi berarti, menjadi saksi bagaimana 5-10 tahun ke depan impian mereka yang tergabung dalam kegiatan Kemah Pemuda Rote (KPR) ini akan tercapai.
                Menyiapkan acara dalam kurun waktu ± 1 bulan bukanlah hal mudah, apalagi untuk skala kabupaten. Beberapa media presentasi untuk kegiatan ini bahkan sulit ditemui di Rote, saya dan Iwan, koordinator tim Rote Ndao, mencari majalah bekas hingga ke Kupang. Tangan Tuhan memang baik, kami ditolong oleh Ibu Yona dari Gramedia Kupang. Dua kardus berisikan majalah itu lah yang menjadi modal 60 pemuda Rote dalam membuat vision board mereka.
                Persiapan lain yang serba mendadak bukan hanya terjadi pada bahan-bahan saja, namun juga materi acara, makanan, tempat, dan turbulensi kegiatan Pengajar Muda (PM) dan kakak-kakak Kamu Rote Ndao masing-masing. Semua punya kegiatan tersendiri, kami saja ketemu saat weekend, Sabtu dan Minggu dalam 1 bulan itu. Bisa dibayangkan betapa hecticnya persiapan kami. Meski begitu, ikhwal dari kegiatan ini adalah kepedulian kami terhadap masa depan pemuda Rote. Sincerity is the answer.
                Keresahan hati kami adalah kepedulian kami. Kepedulian kami berasal dari ketulusan hati. Ya, kami melihat bahwa Rote membutuhkan anak muda yang percaya akan mimpi bagi dirinya sendiri dan daerahnya. Kami sempat berdiskusi beberapa kali, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak muda Rote, apa potensi yang ada pada diri mereka untuk digali, apa yang harus mereka miliki ke depannya agar hidup mereka lebih baik dari sekarang. Kami pun menemukan jawabannya. DREAM.
                “If you can dream it, you can do it.” Kalimat sakti dari Walt Disney ini benar adanya. Jika kita bisa bermimpi, tentu saja kita bisa mewujudkannya. Lalu, bagaimana menimbulkan mimpi dari diri mereka? Motivasi. Serangkaian acara sebelum masuk ke ranah vision board, peserta diajak untuk melihat proses hidup manusia. Mereka dimotivasi dengan materi yang diberikan oleh Rizqie, PM yang ditempatkan di Oeseli. Setelah itu, materi vision board saya bawakan sambil membawa vision board yang telah saya buat.
 Kemudian mereka diajak untuk membuat vision board sendiri, dengan karton, majalah bekas, lem, gunting, dan spidol warna-warni. Mereka berkreativitas, menggali cita-cita. Tampak raut wajah antusias bagi mereka yang baru pertama kali membuat vision board. Sungguh, saya terharu melihatnya. Apalagi ketika saya berbincang-bincang dengan beberapa anak muda, baik di kelompok saya atau kelompok lain. Rata-rata mereka sudah memiliki cita-cita, namun terhambat dengan dorongan dari dalam diri dan luar. Mereka mengaku termotivasi untuk mendapatkan impian di masa depan. Keliling dunia, menjadi polwan, pemain sepak bola, guru, perawat, kuliah di luar Rote, ahli komputer, hingga Bupati Rote Ndao adalah cita-cita mereka.
See? Mereka tidak kekurangan stok mimpi. Dengan vision board, mereka justru terdorong untuk meraih mimpi mereka secepat mungkin dengan menggunakan prinsip SMART (specific, measurable, attainable, realistic, dan timebound). Kami meminta mereka untuk menempelkan vision board itu di dinding kamar mereka. Jadi, setiap mereka bangun pagi mereka melihat vision board tersebut, dan tertanam dalam alam bawah sadar mereka agar mereka rajin belajar, berusaha, dan berdoa, dengan tujuan apa yang mereka tulis di vision board itu menjadi nyata. Hasilnya? Vision board itu sangat kreatif mereka buat. Aktivitas ini bukan cuma menggunting dan menempel saja, namun juga aktivitas yang membuat mereka lebih kreatif dalam meraih cita-cita.
Vision board selesai, lantas apalagi? Pemuda Rote disuguhkan materi tentang Local Heroes. Pahlawan lokal ini dibawakan oleh Kamu Rote Ndao dan Klub Sepak Bola Rote ‘Bintang Mandiri’. Masing-masing pembicara mengemukakan ide dan harapannya untuk Rote. Mereka adalah bukti nyata bahwa negeri ini punya stok anak muda kreatif yang memiliki harapan besar untuk Indonesia. Orang lokal inilah yang akan membawa Rote lebih baik bersama masyarakatnya, dan kami percaya itu.
Pada malam menjelang Hari Pahlawan itu juga, ada materi Renungan Kepahlawanan yang tidak biasa. Deklamasi puisi oleh Ice dan Rizqie, serta nyanyian lagu oleh Kak Tiva dan saya, menjadi bagian acara tersebut. Acara disetting agar peserta fokus, diam, dan tidak ada suara. Mereka diajak untuk khusyuk berpikir, apa yang telah mereka lakukan untuk Indonesia? Sebatas mana mereka berjuang untuk bermimpi dan berkarya bagi diri sendiri dan daerahnya? Menjadi pemuda penerus bangsa atau perusak bangsa? Kira-kira itulah yang ingin disampaikan. Di akhir acara malam itu, kami berharap mereka semakin termotivasi dan secara nyata berkontribusi bagi Rote di masa depan.
Penutupan acara di hari minggunya dimulai dengan ibadah minggu dan olahraga pagi. Kebersamaan diuji secara berkelompok dengan permainan yang dikemas dalam outbond. Ice memandu kami agar acara yang bertujuan untuk membangun kekompakan antar sesama ini berjalan lancar. Saya kebagian pos  bersama Kak Serwin dari Kamu Rote Ndao. Beberapa tim yang kami wawancarai mengaku acara di minggu pagi itu semakin membuat mereka tidak ingin menghentikan KPR. Hehe. Mereka ingin menambah hari. Mereka menuliskan di kertas testimoni agar acara ini ditambah harinya, agar mereka semakin banyak mendapat wawasan, agar menjadi pemuda Rote yang berguna, agar impian mereka tercapai, agar mereka mengenal banyak teman dan pengalaman baru, dan agar-agar lainnya.
Perhelatan kegiatan ini ditunjang pula dengan permainan-permainan yang sarat akan makna. Mulai dari tiup balon, membentuk bunga teratai + lampu merah + ojek, dan lainnya membuat wajah bahagia terpancar. Saya melihat anak-anak muda ini haus akan kegiatan seperti ini. Mereka membutuhkan acara yang membangkitkan motivasi untuk berani bermimpi, bukan hanya berhenti disini, tapi berkelanjutan, seperti yang mereka tulis di kertas testimoni. Permainan itu ditutup dengan pemilihan ketua angkatan pertama KPR. Terpilihlah Sarliance Lette (Serly) sebagai ketua. Perempuan yang bercita-cita sebagai polisi wanita ini punya cita-cita yang besar untuk daerahnya. Tekad dan semangatnya membara. Pengharapannya tinggi, namun tidak lupa rendah hati. Kelak ia akan memandu 59 teman-temannya dalam merangkul mereka, merancang kegiatan, atau bahkan menjadi ajang sharing pengalaman. Doakan semoga mereka menjadi pemuda harapan bangsa sejatinya.
Hampir satu bulan acara KPR telah usai. Banyak kejadian yang kami syukuri. Bisa berbagi dengan pemuda Rote, bisa bekerja sama dengan aktor lokal, dan memperkuat tim Rote juga. Saya sendiri banyak belajar dari acara ini. Mengenal banyak orang dan membuat acara di tempat yang bahkan saya baru pertama kali injakkan kaki, adalah sesuatu anugerah yang patut disyukuri. Karena ini bukan soal menginspirasi saja, namun juga justru saya lah yang terinspirasi agar lebih baik.

Let’s see what will happen on 5-10 years later with Rote youths. Let Allah Swt gives them big dream, big hope, and big motivation, to make their dream comes true. Dream, believe, and make it happen!


oleh Bella moulina

Sabtu, 19 Oktober 2013

JANGAN PERNAH ADA KATA PUTUS ASA

Rasa sakit hati itu ada | karena engkau izinkan ia ada

bahagia hati tiada datang sendiri ia hasil daripada memaknai | dan memahami Allah tiada lalai dalam memberi dan menilai

mengapa membiarkan orang lain mengambil kendali? | toh hidup milik Allah dan jalan kita yang pilih sendiri?

hati tidak bisa memilih, kita yang memilih | merasa sakit hati itu pilihan, jadikan pelajaran juga pilihan

menertawai kurang bijaknya diri dalam menilai lebih bagus | ketimbang depresi pikirkan "mengapa dia begitu"

maka taubat bagi jiwa dan istighfar segera diucap | mungkin ada bagian maksiat kita hingga kenyataan tak sesuai harap

dan jangan bilang engkau tak bisa melupakan | jangan-jangan justru sakit hati bagimu kenikmatan?

disakiti karena salah memilih itu memang bagian dari bodoh | tapi bertahan sakit agar dia memperhatikanmu itu jauh lebih bodoh

hidup bukan drama korea | stand up and get a life! 

Rabu, 04 September 2013

MENINGKATKAN MORAL BANGSA DENGAN NILAI AGAMA DAN NILAI BUDAYA

Moral berasal dari bahasa Latin Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya Moral anak jaman sekarang sudah tidak terarah lagi, rasa malu atau sungkan sudah tidak melekat di diri mereka. Banyaknya kasus-kasus kriminalitas di Indonesia tak lain dan tak bukan dilakukan oleh generasi-generasi penerus bangsa ini. Nama baik Indonesia sendiri tercoreng oleh tingkah laku anak bangsa sendiri sama halnya dengan muka ibunya dilumuri kotoran anak kandungnya. Apa Penyebabnya ? Di era globalisasi ini budaya asing begitu bebas masuk dan memperbudak anak bangsa untuk mengikuti budaya asing tersebut. Jika tidak mengikuti budaya tersebut maka disebut KEJAM atau Ketinggalan Jaman. Sungguh miris budaya timur ditinggalkan dan budaya barat dilestarikan. Banyaknya kasus-kasus yang mencerminkan merosotnya moral anak bangsa misalnya saja saat ini lagi maraknya kasus porografi dan lebih mirisnya dilakukan oleh anak di bawah umur bahkan para pejabat tinggi Negara ini juga melakukan hal yang tidak bermoral ini. Ada kasus yang belakangan ini sangat mengiris-ngiris dada bangsa ini , 5 anak SD memperkosa temannya sendiri. Kejadian ini dipicu seringnya ke lima anak tersebut melihat video porno, video porno mudah diakses melalui website-website atau situs porno yang marak di dunia maya. Walaupun pemerintah sudah memblokir situs-situs porno namun tiap harinya situs-situs porno baru bermunculan. Dan mungkin kita masih ingat dengan kasus yang sungguh memalukan dan cukup mengiris hati kita, sepasang suama istri rela melakukan hubungan suami-istri di depan umum dan mengizinkan untuk divideokan atau didokumentasikan hanya demi mendapatkan bayaran sebesar Rp. 800.000,00. Dan bukan itu saja, ada kasus diduga kepala sekolah mencabuli belasan siswanya dan kader dari partai PPP juga tak luput dari aksi pornografi dengan melakukan hubungan suami isti bukan dengan istrinya. Terlihat jelas bukan saja para wong cilik “rakyat” melakukan aksi keji tersebut dan ternyata para pejabat tinngi di Negara ini juga tak mau kalah. Itu masih contoh beberapa kasus pada tahun 2013 ini, jika ditelusuri lebih jauh sangat miris melihatnya. Sungguh miris sekali, bukan saja lemahnya moral menjadi penyebab semua itu, namun himpitan ekonomi memaksakan mereka untuk melakukan segala cara contohnya seperti yang dilakukan oleh sepasang suami istri dan kelima anak tersebut. Menanggapi persoalan tersebut, sebaiknya pemerintah memberikan perhatian khusus, terutama bagi generasi muda yang akan menjadi penerus dan penegak bangsa Indonesia kelak.Generasi muda kita harus dibekali nila-nilai agama dan budaya yang tinggi agar moral dan mental mereka terhadap kecintaan kepada bangasa ini semakin kuat. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan moral kepada generasi muda saat ini, seperti menanamkan nilai-nilai agama, mengenalkan dan mengajak untuk melestarikan budaya bangsa dan lain-lain. Menanamkan Nilai-Nilai Agama Agama di Indonesia beragam ada Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Budha, Hindu dan Konghucu. Dari masing-masing agam tersebut pasti mengajarkan kebajikan bukan kebatilan. Dengan melekatnya nilai agama maka moral generasi muda ini akan lebih baik dan mulia. Nilai agama ini pun harus dibarengi dengan nilai nasionalisme dan Intelegensi yang tinggi sebab jika tidak maka akan ada perang antar agama. Para generasi muda akan memiliki rasa takut kepada Tuhan jika ingin berbuat sesuatu yang melenceng atau tidak seuai dengan agama mereka. Misalnya saja jika para pejabat tinggi Negara ini mempunyai rasa takut dan merasa diawasi oleh Tuhan maka tidak akan terjadi korupsi. Begitu juga dengan para generasi muda ini jika mereka merasa diawasi maka mereka tidak melakukan perbuatan criminal yang bukan saja mencoreng nama mereka namun nama bangsa ini juga. Hancurnya moral karena rendahnya keimanan, semakin tinggi iman seseorang maka semakin tinggi pula akhlaknya.Semakin rendah iman seseorang maka semakin rendah pula akhlaknya. Mengenalkan dan Mengajak Untuk Melestarikan Budaya Setelah nilai-nilai agama sudah tertanam dengan akar yang kuat dan tidak akan goyang walaupun tertiup badai angin, maka langkah selanjutnya memperkenalkan budaya-budaya yang dimiliko oleh bangsa ini. Budaya Indonesia sangat beragam dan diwarnai dengan adat-adat atu tradisi yang masih kental. Dengan memperkenalkan budaya Indonesia dan mengajak untuk melestarikan budaya tersebut akan menumbuhkan jiwa nasionalisme yang tinggi. Menanamkan jiwa nasionalisme di sekolah merupakan langkah yang tepat karena di sekolah itu lah para generasi muda berkumpul. Tidak perlu lagi mencari orang atau membuat perkumpulan. Di sekolah-sekolah sudah ada pelajaran atau kegiatan ekstrakuliker namun belum efektif diterapkan. Pelajaran sastra sudah cukup efektik diterapakan dapat dilihat dengan adanya kegiatan seni teater seperti puisi, drama, novel, cerpen, pantun dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran sastra juga sudah banyak keprakteknya ditandai dengan bermunculan novel-novel, cerpen-cerpen, puisi-puisi, pantun-pantun dan pemain drama karya anak bangsa Pelajaran sastra sudah cukup baik, namun sayangnya masih ada sekolah yang belum menerapkannya khususnya sekolah-sekolah swasta yang berada di daerah terpencil, karana masih kurangnya perhatian pemerintah terhadap sekolah tersebut. Pelajaran seni budaya dalam penerapannya hanya teori saja, anak akan merasa bosan jika dalam proses belajar mengajar tidak ada seninya atau monoton hanya teori saja, hasilnya pelajaran tersebut tidak akan melekat di diri anak. Alangkah baiknya jika pelajaran tersebut langsung dipraktekan anak pun merasa senang dan tidak bingung karena mereka terlibat langsung. Misalnya dalam pelaaran seni budaya mempelajari tentang jenis-jenis tarian yang ada di Indonesia. Jika guru hanya memberikan teori dan metodenya hanya menghafal maka siswa jenuh dan sebaliknya jika guru mengajarkannya disertai dengan praktek maka anak akan merasa senang, anak merasakan sendiri tarian-tarian tersebut. Anak diberikan teori pikiran anak akan terbayang-bayang. Contohnya jika anak tersebut bersuku Jawa dan pada guru menjelaskan tentang tarian batak yaitu Tari Tor-Tor maka anak tersebut akan bingung dan dia akan membayangkan gerakan tangannya, tubuhnya dan baju yang dipakai. Dengan praktek langsung anak akan lebih paham baju yang digunakan, gerakan tangan, gerakan tubuh dan lain sebagainya. Nilai-nilai agama dan nilai-nilai kebudayaan yang tertanam di jiwa generasi muda dibarengi dengan Intelegensi yang tinggi akan membangkitkan semangat mereka membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan makmur. Secara otomatis generasi muda akan menjaga moralnya demi nama baik bangsa.

Rabu, 03 Juli 2013

Menyulam Rindu di hati yang rapuh

Nyala cinta kian redup di pojok hati. Gelap dalam merana berselimut duka. Serpihan kabut mengepung dilingkar angan. Hidup masih menerpa dikesendirian.
Jika rindu kembali hadir, aku akan tersenyum menyambut mu. Menggenggam lembut tangan mu. Mendekap dan berbisik, “jangan untuk pernah meninggalkan diri ku…”.
Namun, selaras hati merindu di penantian tanpa jawab. Tenggelam dalam sepi, menjauh dari tawa, berteman tangis. Di heningnya malam jiwa membisu menatap kedip bintang.
"Cinta telah menjauh dari tautan harap, berdiam tanpa artikulasi..."
Cinta telah menjauh dari tautan harap, berdiam tanpa artikulasi. Mencoba memaknai rasa yang melilit di hati ini, tapi suram berliku tanpa hikmah. Sinar mata meneropong jauh, menelusuri jejak diri mu. Tak kunjung ku temukan.
Di sini, asap merindu pada angin. Agar terbang dan lenyap bersama ingat. Biar lupa hadir menghapus kenangan… pasrah !
Alunan suara biola Kitaro, menggesek lembut, menyobek hening. “Think of you”, hadir menyulam rindu di hati yang rapuh...

Secepat itu, cinta mu mengubah rasa?

Cinta ini berkelana di jarak yang membentang. Menapak rindu dalam jerat hati yang membisu.
Mengingat mu… dan untuk berapa lama menanti senyum manis di bibir mu hadir. Aku tertatap diam. Kini semua telah berlalu ditaburan keluh tanpa jejak.  
Kisah cinta itu kadang hadir menyapa jiwa, mendendang dalam alun kesepian hidup. Aku mencoba membuka hati, namun serpihan angin hadir membawa kabar: Kau tak lagi ingin bertaut kasih.
Semua rasa cinta tak bersenyawa di jiwa ini, gersang menggelap di gulita hati. Bersama malam, renung memberi ku ingat bahwa, tak mesti jalan hidup tertutup kelam. Tapi, aku tak sanggup untuk menghindar.
"Kadang di jarak rindu yang membujur, kelana mengalur cerita, mengingat mu..."       
Suram menerpa di ujung rasa, menyulam galau tanpa pengertian untuk berhenti mengingat mu. Jujur di hati ini bertutur, ada rindu yang mencampak. Dan kau adalah pemicunya.
Pupus, redup dan membeku spirit jiwa. Entah harus berkelana di hati mana untuk mengais rindu yang berbeda. Tak sanggup menggantikan diri mu.
Kadang di jarak rindu yang membujur, kelana mengalur cerita, mengingat mu. Hanya sebatas itu rasa rindu beraduk kenangan tentang mu, mencampak di benak. Berangsur menepi dalam alun ilusi. Jauh dari kenyataan tentang kau dan aku.
Secepat itu, cinta mu mengubah rasa…?

Selasa, 25 Juni 2013

Ayah

Ayah
( Untuk Ayah : Rudianto )
Oleh : Eva Juliyanti
Ayah….
Kau pemberi namaku
Kau pemberi identitasku
Aku dulu bukan apa-apa
Aku hanyalah seonggok sampah,
Tercecer di trotoar berbau, tak bernilai guna

Berkat kau Ayahku…
Aku menjadi sesosok batu cadas
Tak segan-segan berdiri di pingggi trotoar itu
Aku tegar, aku kuat
Berkat tangan kerasmu

Tanganmu menampar-nampar sampah itu
Tanganmu pula menjadikan sampah itu
Menjadi batu, batu cadas yang kokoh
Tak kan goyah, walaupun di hantam
Ribuan bahkan jutaan debu,Polusi
Mmenginginkan batu ini rapuh
Dan kembali menjadi sampah
Namun kau, menghalanginya