Mengupayakan keberhasilan adalah juga OTOMATIS upaya menghindari kegagalan

Selasa, 23 Desember 2014

Rindu Rumah Dan Segala Isi-isinya


Di sini, bila pagi tiba, hanya longlongan anjing yang menyapa. Tidak ada embun yang malu-malu sembunyi dibalik daun-daun kering. Tidak ada cericit burung-burung kecil yang tengah menikmati hidangan paginya.


da hamparan padi yang menguning. Ada rindu pada kanak-kanak yang berlarian di bawah guyuran cahaya rembulan. Ada rindu pada tawa, tangis, senyum, sapa, bahkan suara melengking ketika pagi tiba.


Di sini, semua terasa terlalu sibuk dengan dunianya masing-masing. Kebersamaan telah luntur, karena setiap waktu yang berlalu bagai uang yang berjatuhan pada jurang kegelapan. Di sini, hanya ada sapa sekilas, senyum sekilas, dan kehampaan yang panjang, sebagian besar kelegaan mulai musnah digerus rutinitas.


Selamat datang pada dunia realita yang menjemukan, semoga tidak perlu terlalu lama. Rindu rumah dan segala isi-isinya. Di sanalah semestinya kaki ini berpijak lebih kuat, memaksimalkan segala yang ada. Hari itu akan tiba, akan tiba. Akan, akan, akan. :D

Monologue


Untuk : Dini, yang terlalu memanjakan hati
Dari   : diri sendiri, yang menulis dengan logika, yang benci kau bangun tidur dengan penuh luka.
Tidak mudah melepaskan sesuatu yang familiar dengan cara paksa. Seperti anak kecil yang sudah setiap hari menghisap dot, lalu ibunya mengambil paksa dot nya dan diberikan pada kawannya. Lalu si anak kecil itu harus melihat dot miliknya dipakai oleh orang lain.
Mungkin seperti itu rasanya ketika kehilangan seseorang. Let’s say, putus cinta (eeaaaa curhat lageeee). Biarin blog blog gw ini. Kalo gak suka kan tinggal di unfollow.
Yang biasanya kita adalah orang penting buat dia, lalu sakit ketika membayangkan perhatiannya bukan milik kita lagi. Yang biasanya dia marah-marah sama kita karena kita teledor, sakit membayangkan gemesnya bukan milik kita lagi. Yang biasanya dia membuat keputusan dengan mempertimbangkan keberadaan kita di masa depannya, sakit membayangkan kita sudah tidak terlihat di jalannya lagi. Yang biasanya dia bisa tersenyum saat mendengar suara kita, sakit membayangkan dia sudah lebih banyak tersenyum karena orang lain. Yang tawanya kamu sangat suka dan membuatmu bahagia, sakit membayangkan tawa itu sudah bukan untukmu lagi. Yang akhirnya kamu menemukan orang yang bisa mengalahkan dominansimu, sakit membayangkan dia sudah lelah menjadi gurumu dan kini mengajar orang lain.
Sakit itu mungkin tak jelas juntrungannya. Jelas karena cinta, juga sayang. Tapi mestinya coba lihat sekali lagi, itu semua pasti juga karena nafsu ingin memiliki.
Instropeksi, berapa kali kamu melukai ketika dia masih berada disana, mengejarmu dengan segala keterbatasan kekuatannya? Berapa kali kamu berbohong dan tidak peduli pada perasaannya ketika kamu bersenang-senang dengan dunia semu mu? Betapa dalam kemarahannya ketika kamu tidak mendengar segala keluh kesahnya? Betapa jatuhnya dia ketika kamu tidak memberinya kesempatan untuk bertandang ke rumah?
Semua kejadian buruk yang menimpa, pasti juga karena kesalahanmu sendiri. Lalu gelisah karena belum meminta maaf? Kamu sudah meminta maaf, meski tidak jujur mengungkapkan apa saja kesalahanmu dulu.
Lalu ini menjadi hal yang sulit kamu lakukan, memaafkan dirimu sendiri. Kamu menyalahkan, kamu berandai, jika saja dulu aku begini jika saja dulu aku begitu. Bukankah ini pikiran dari setan? Inilah pertama kalinya kamu ingin mengulangi masa lalu. You broke your own rule.
Bisakah kamu memaafkan dirimu sendiri? Berhenti berpikir bahwa tembok adalah tempat untuk menjedotkan kepala. Berhenti berpikir bahwa pagimu tidak indah hanya karena ketika bangun tidur, hal pertama yang kamu pikirkan adalah kamu kehilangan dia. Pikirkan Tuhanmu, pikirkan hari ini ada kerjaan menarik, trial Vaseline Men desain baru (pake ngebocorin rahasia perusahaan orang, vaseline men mau ganti desain, yes!!).
Cobalah memaafkan dirimu. Percayalah semua berjalan sudah pada tempatnya, memang sudah semestinya. Dan buat pelajaran, jangan lakukan kesalahan yang sama pada masa depan. Lepaskan bebanmu. Kamu ini sedang tidak menerima takdir.
Lalu kamu belum bisa menerima jika dia mencintai orang lain. Dan mulai berpikir bahwa cintanya padamu dulu tidak sedalam cintamu padanya. Aisshh, berhentilah berpikir rumit. Dia cinta, itu saja, kata dia kan begitu. Ketidakterimaanmu pada kondisi adalah hasil pikiran rumitmu sendiri, yang tidak selalu benar dan hanya mempersulit dirimu melepaskan.
Lepaskan, bersihkan pikiran. Jika belum bisa memaafkan, minimal tidak banyak dipikirkan. Jika belum bisa mendoakan yang baik buat dia, minimal tidak mendoakan yang buruk. Jika belum bisa berhenti mencintai, minimal berusaha menetralkan hati. Jika belum bisa ikhlas merelakan, minimal tidak mengganggu.
Bukankah hubungan kalian rusak karena seseorang datang dan memberitahumu tentang kesalahan dia? Lalu kalian berpisah. Maka, diamlah disini, jangan jadi orang yang merusak itu. Biarkan hatimu sendiri yang terluka, jangan sampai hati perempuan lain ikut luka karena kau bercerita.
Lalu jawabmu, tapi sebeeeeel dia PHP padahal udah ada yang baru. Kan jadinya makin dalem, terus dipaksa keluar!!!
Berpikirlah positif, mungkin saat itu dia sedang kekanak-kanakan. Dia masih butuh kehadiranmu untuk pembiasaan. Dia masih butuh keberadaanmu untuk meneguhkan hatinya dalam beberapa situasi yang belum terkendali. Dia masih butuh semangat darimu untuk membuat kepalanya jadi dingin seperti biasanya. Bukankah kamu yang selama ini bisa menyejukkan hatinya? (ceileeeee, alay lo)
Percayalah, mintalah hati pada Pemiliknya. Sini kuajari doa, “Ya Ghofar, ampuni dosa-dosa kami, dosaku dan dia ketika kami mendekati nerakamu bersama. Ya Rabb, kumohon, jika dia memang jodohku, dekatkanlah kami dengan cara yang Kau suka. Jika memang bukan jodohku, kumohon ambil perasaan ini, ambil perasaan ini, ambil perasaan ini, aku tidak sanggup menyimpannya. Lalu buat aku ikhlas dengan takdir-Mu. Segera pertemukan aku dengan jodohku yang pasti lebih baik. Bahagiakan aku, apapun yang terjadi, apapun yang terjadi, apapun yang terjadi.” 
Dan jika kau masih punya tenaga untuk berusaha, usahakan doakan kebaikan buatnya. Kamu pasti bisa. Kita, pasti bisa. :)

Memang Tidak Bisa Sepenuhnya Sama

Di negeriku tercinta ini, memang usia 20(+) bagi kaum wanita menjadi sebuah momok yang menggelitik. Tak jarang orang-orang mulai lebih rajin menanyakan kapan jodohnya datang.

Dan satu lagi yang membuat ini semakin terasa rumit, bahwa kaum perempuan cenderung lebih mudah resah. Iya, bagaimana tidak, secuek-cueknya kaum perempuan, tak jarang dalam diamnya angan berlarian kemana mana.

Kurasa ujian kaum perempuan memang lebih berat di fase ini. Karena semakin mereka matang, semakin terlihat mereka menonjol, tak jarang seorang lelaki menjadi sedikit segan—lelaki cenderung lebih minat membimbing daripada dibimbing. Kalau mau, coba bandingkan saja, kurasa akan lebih banyak kita temui lelaki yang berkarakter begitu. Lain hal jika lelakinya cuma mau memanfaatkan, mungkin juga banyak yang begini.

Siang ini pada rintik hujan yang tak begitu deras, hati ini kembali bergetar mengagumi mereka. Sungguh mereka mengalami fase yang lebih berat perihal jodoh. Kita tak bisa menampik bahwa lelaki yang berusia mungkin di atas itu, akan lebih mudah mendapatkan jodoh ketimbang kaum perempuan. Karena tak jarang pula perempuan yang lebih muda bisa terpikat dengan lelaki yang sudah terasa cukup mapan secara pandangan dan lainnya.
Ah, tidak ada tidak, selain harus menghormati dan tidak mempermainkan mereka. Ujian mereka sudah cukup berat, semoga kaum lelaki lebih mau paham dan tidak bertindak seenak jidad.

Ternyata, memang tidak bisa sepenuhnya sama. Semoga kalian-kalian yang dalam fase-fase seperti ini tetap diberi kekuatan dan kelapangan. Hanya bisa membantu mengirim doa dan senyum kekaguman.

Selamat memperjuangkan takdir masing-masing. Berat memang, kita hanya bisa terus berupaya dan sepenuhnya yakin Dia tiada pernah menjauhi kita. Tetaplah berupaya, sambil terus bersandar sepenuhnya pada-Nya.
Salam hormat dari kami, yang terkadang tidak sampai berpikir sejauh ini. Semoga senantiasa dikuatkan untuk perjuangan masing-masing. :)

#monolog #smile #happy

Introvert Dan Pemalu Itu Beda


iperbaiki. Kau hanya ketakutan akan mata-mata yang kau pikir selalu menganggapmu miring.
Sungguh beda sekali antara introvert dengan para pemalu dan penakut. Introvert berani melakukan apa pun yang dia inginkan, hanya terkadang dia lebih suka melakukannya sendiri, atau lebih tetapnya dia tidak mengharuskan ada yang menemani. Ah, sementara kau, kau mengurung diri karena takut dan malu.
Boleh-boleh saja malu dan penakut, itu hakmu tentu saja. Tapi, coba tanya pada diri sendiri, benarkah kau bahagia dalam kesendirian? Benarkah kau nyaman mengurung semua keinginan hanya karena takut dan malu yang berlebihan?
Setiap orang pun punya kelemahan. Bila sebenarnya ingin bisa berkawan, belajar saja untuk lebih terbuka pada setiap yang mau berkawan. Bila belum berani mengenali, belajar berani memulai perbincangan, belajar melepas kemungkinan-kemungkinan buruk yang membuat jalanmu kian tersandung-sandung.
Sungguh terlalu pemalu dan terlalu penakut adalah hal yang patut dibenahi.
Hei, kelak kita hendak jadi orangtua. Bila terlalu takut dan terlalu pemalu itu masih terus meraja, kasihan anak-anak kita jika nanti meminta bantuan melakukan hal yang sering kita takutkan. Bertanya lebih dulu, misalnya. Mencari informasi penting, misalnya. Menghadapi sebuah kelompok/instansi, misalnya.
Tentu mengubah sesuatu yang sudah begitu mengeras dalam darah bukanlah pekerjaan mudah, selalu sulit. Tapi apa iya kita tidak benar-benar mau mencoba? Tak perlu mengingkari diri bila itu benar kebaikan, tak perlu pula mencari pembenaran untuk sesuatu yang sebenarnya keliru.
Introvert dan pemalu serta penakut itu sungguh berbeda. Bangunlah, buka mata, tak perlu terus bersembunyi di balik pembenaran diri.

Menasihati diri sendiri itu penting, bermonologlah. :)

Itu Kan Mereka


Mungkin mereka menginginkan yang bergelar tinggi, lulusan luar negeri, mendapat beasiswa sana sini. Itu kan mereka.
Mungkin mereka menginginkan yang selalu dipuja berbagai kalangan, menjadi perbincangan sana-sini (barangkali biar mendapat “kebanggaan” berlebih saat diceritakan pada teman-temannya). Itu kan mereka.
a bernyanyi, bisa menari, bisa lompat tinggi, atau bahkan bisa mencuri kumis Pak Haji. Itu kan mereka.
Mungkin mereka menginginkan yang selalu begini, begitu, begono. Itu kan mereka.
Mau sampai kapan kamu menghakimi diri atas apa-apa yang seperti mereka inginkan? Padahal, aku yang lebih paham bahwa yang kuinginkan ya yang seperti kamu.
Kamu tahu, kamu suka menyusahkan dirimu sendiri, padahal yang sepertimu saja sudah membuatku bangga sekaligus bahagia. Bila mungkin suatu hari nanti ingin lebih, aku ingin lebih itu pun datang darimu—tentu saja selama kamu nyaman melakukannya.
Cukup ya, jangan suka diulang-ulang lagi. Cobalah untuk bangga pada diri sendiri, bukan untuk sombong, tapi untuk lebih percaya diri—bahwa kamu teramat berharga dari sekadar apa yang kata mereka inginkan.
Kalau ingin tahu apa yang aku ingin, tanyalah padaku, tanpa perlu repot-repot mematok standar dari mereka. Karena yang akan menjalani aku, bukan mereka. Smile … :)

[Surat Untuk Ukhty] Ada Yang Masih Diperjuangkan


kali hal seperti itu akan membuatmu merasa dispesialkan. Tapi kau juga perlu tahu, ada sebagai laki-laki yang ingin membentengi dirinya sendiri. Bukan hanya karena ingin menjagamu, tapi untuk menjaga dirinya sendiri. Sebagian mereka masih mengkhawatirkan imannya sendiri. Kau mungkin tak masalah, imanmu kuat, tapi bisa saja dia tidak merasa dirinya begitu.
Kau perlu tahu, seorang laki-laki—siapa pun itu—yang telah merasa diri menemukan “suatu” untuk kehidupannya. Semua pasti ingin memperjuangkannya. Dan kau perlu tahu, beberapa laki-laki hanya ingin melakukan sesuatu dengan benar-benar serius, sebut saja pernikahan.

Sebagian mereka khawatir, ketika sudah terlalu dekat denganmu sementara dirinya sendiri masih banyak kurangnya; mereka takut membuatmu menunggu terlalu lama, mereka khawatir membuatmu bosan tentang hari kepastian.
Mungkin kau bisa menunggu, mungkin kau takkan mengeluh di depannya. Tapi perlu kau tahu, beberapa dari mereka takkan tega bila mendengar kau digunjingkan karena tak kunjung mendapat kepastian. Mereka tak mau membuatmu resah.
Beberapa lelaki lainnya—yang benar merasa menemukanmu—mereka tak mau sembrono menebar janji-janji dan harapan. Mereka hanya ingin menyuguhkan kepastian, mereka sembunyi-sembunyi menyiapkan segalanya.
Perlu kau tahu, finansial juga menjadi salah satu tolak ukur untuk sebagian mereka. Mereka paham bahwa setiap orang pasti ada rezekinya, tapi mereka juga paham bahwa dirinya masih memiliki sifat kemanusiaan, sifat yang membuat mereka sadar betul akan realitas dirinya saat itu.

Mereka yang benar merasa menemukanmu tentu ingin selalu membuatmu bahagia. Sebagian mereka mengkhawatirkan bahwa kau akan kekurangan setelah bersamanya. Meski barangkali kau tak mengkhawatirkan itu, tapi mereka tetap tak mau melihatmu menahan itu.

Jika kau masih bertanya kenapa, karena mereka tak mau. Kenapa mereka tidak mau begitu, karena itu bukan karakternya.
Kau tak bisa memaksakan karakter seseorang untuk sama rata, tidak bisa begitu. Sebagaimana kau yang ingin dipahami—meski kaum lelaki cenderung lebih jarang yang meminta dipahami—mereka pun ingin dipahami. Mereka tak jauh beda denganmu, yang kadang diam-diam tapi banyak pula harapannya.
Ukhty, kau perlu juga paham, bahwa sebagian lelaki merancang kehidupannya dengan begitu mendetail. Mereka ingin menikah kalau sudah bla … bla … bla… Mereka baru ingin benar memperjuangkan mencari calon bila sudah bli … bli … bli …. Sebagian mereka juga punya beberapa impian untuk orangtuanya. Sebelum bisa membuat orangtua begini, aku tak mau begitu.
Kebanyakan lelaki adalah seorang pemimpi ulung yang tak mau menodai mimpinya. Bahkan tak jarang mereka mencuekan rasa cinta yang ditemukan di tengah jalan. Bukan karena takut akan menjatuhkan, mengganjal, atau bahkan menghalangi. Tapi karena bagi sebagian mereka ada waktu-waktu yang telah diimpikannya, dirancangnya dengan segenap keyakinan.
Bukan karena mereka tak menginginkanmu, tapi kau dipertemukan memang belum sebagaimana waktu yang telah ia canangkan. Dan sebagian mereka tak suka membuat orang yang benar dikasihinya untuk menunggu. Sekalipun kau bilang tak apa menunggu, sebagai mereka tetap tak ingin melihat yang dikasihinya menunggu terlalu lama. Sekali lagi, tiap orang punya karakternya, kau tak bisa menuntut mereka untuk sama rata.

Bukankah justru membosankan bila seluruh manusia punya pola pikir yang sama?
Ukhty, semoga kau mau sedikit memahami. Bahwa sebagian lelaki paham, menyatukan dua hati bukanlah sebuah permainan—maka mereka mempersiapkan dengan benar matang. Ah, sudahlah, kurasa kau cukup cerdas untuk memahami hal seperti ini.
Selamat malam, Ukhty. Yang belum ku ketahui namanya,Mungkin ini sebagai kata kata yang dibenakku apa yang terbaik kedepannya, sebelum semua itu terjadi dan terjadinya menjadi indah.
Maaf aku terlalu cerewet, semoga mimpimu masih aku. Selamat terlelap, Ukhty, selamat rehat. :)

#monolog #smile #happy #KepadasangUkhty

Minggu, 02 Februari 2014

Hijab untuk Siapa?





“Rin, kamu kenapa sih pake kerudung?” tanya Mimi tiba-tiba, seperti memecah keramaian kampus sekalipun yang mendengar hanya diriku seorang.
“Eh? Lah kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?” aku kaget sambil tertawa kecil. Sahabatku ini rupanya mulai penasaran. Mungkin ini celah yang Allah berikan padaku agar aku bisa mulai berdakwah padanya.
“Habis kan ada yang pakai kerudung ada yang nggak. Udah tau Jogja lagi panas-panasnya begini, kamu masih aja tahan pakai kerudung dan baju tertutup. Aku aja yang nggak pakai udah gerah[1] banget, apalagi kamu coba yang ditutup-tutupin…”
“Siapa bilang aku pakai kerudung terus jadi gerah? Biasa aja kali Mi… Paling sekarang derajat gerahku sama gerahmu sama aja, nggak ada bedanya…”jawabku sambil memasang muka menggoda Mimi. Akhir-akhir ini memang cuaca Jogja sedang panas-panasnya.
“Bohong ah Rin, masa sama? Nggak mungkin…” Mimi tak percaya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Beneran pengen tahu nih, kenapa meski sepanas ini aku tetap pakai kerudung?” aku tambah iseng menggoda Mimi.
“Iya Airin….beneran…” wajah Mimi terlihat kesal.
“Hehehe, oke Mi. Jadi…Aku pakai kerudung dan baju tertutup lengkap bahkan sampai pakai kaos kaki segala adalah karena…ini perintah Allah untuk selalu menutup aurat, begitu Mimi sayang!” kataku.
Mimi terdiam sejenak. “Rin, kalau kata Allah, apa berarti setiap perempuan yang beragama Islam harus memakainya untuk menutup aurat?” tanya Mimi.
“Nah, siiiip. You’ve got the point! Itu dia, karena ini perintah Allah, maka semua muslimah harus memakainya. Muslimah itu ya tentu saja semua perempuan yang beragama Islam! Termasuk aku dan kamu,” kataku berseri-seri. Aku mulai melihat celah bahwa Mimi sedang berpikir lebih dalam.
“Tapi Rin, Mamaku nggak pakai kerudung, keluarga besarku juga nggak semuanya pakai kerudung, bahkan teman-teman kita dan mungkin masih banyak perempuan lainnya yang nggak menutup aurat. Apa menutup aurat itu bukan pilihan Rin?”
“Mi, kalau Allah bilang perintah menutup aurat adalah wajib. Maka itu namanya bukan pilihan Mi. Kita nggak punya hak untuk memilih antara melakukannya atau meninggalkannya. Mutlak bahwa itu harus,” aku menjelaskan pelan-pelan. Masalah seperti ini tidak boleh disampaikan dengan cara menggurui, apalagi seolah-olah kitalah yang paling benar. “Seperti perintah shalat. Allah bilang shalat itu wajib. Makanya semua muslim harus menunaikannya.”
“Kalau wajib, kenapa masih banyak juga yang nggak menutup aurat, Mi? Kenapa nggak sedari kecil kita diajari begitu? Bahkan pelajaran agama di sekolah pun nggak membahas tentang aurat. Kami dulu hanya diajarkan tentang shalat, zakat, bahkan mungkin pembagian waris yang sebenarnya terlalu detil padahal penerapannya tidak sesering keharusan menutup aurat?” Mimi bertambah kritis. Aku kembali memutar otak agar menemukan jawaban yang baik untuk menjawab pertanyaannya.
“Karena masih banyak yang belum paham, Mi,” aku terdiam sebentar, menata kata-kata yang bermunculan di kepalaku, “Masih banyak yang belum paham itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada yang belum tahu dan memang belum mencari tahu, tapi ada juga yang sudah tahu tapi menyepelekan. Karena paham dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Masih sedikit orang Islam yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir mendalam.”
“Mmm…maksud berpikir mendalam itu gimana?” Mimi bertanya.
“Jadi gini Mi. Misalnya ada orang yang belum tahu tentang kewajiban menutup aurat. Kemudian dia nggak cari tahu, nggak belajar Islam dengan baik akhirnya nggak dapat ilmunya juga kan? Padahal kewajiban menuntut ilmu itu nggak cuma ilmu dunia saja. Ilmu agama juga penting banget, apalagi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.”
“Kalau nggak kepikiran buat menuntut ilmu bagian menutup auratnya Rin? Misalnya dia udah belajar agama dengan baik tapi masalah ibadah kayak shalat, baca Quran, zakat, puasa kayak gitu gimana?”
“Berpikir mendalam itu kaitannya juga dengan kehidupan sekitar Mi. Harusnya kita berpikir kritis ketika melihat di sekitar kita ada orang yang menutup aurat dan ada yang nggak. Kenapa bisa begitu? Harusnya di hati kecil kita terbesit rasa ingin tahu dan sejak saat itu rasa penasaran membawa kita pada kemauan mencari tahu yang tinggi. Dan ketika tahu bahwa menutup aurat wajib, misalnya, harusnya yang kita lakukan segera adalah menerapkan ilmu tadi pada kehidupan kita. Apalagi contohnya tadi menutup aurat yang sifatnya wajib. Wajib itu bukan perkara aku mau dan aku tidak mau. Itu nanti jatuhnya jadi masalah nafsu manusia yang mudah digoda setan. Wajib itu perkara kita diperintahkan untuk harus melakukan. Kalau masalah aku mau dan tidak mau nanti jadinya nyambung ke aku mau surga dan aku tidak mau surga. Nah lho, dampaknya malah jauh banget!” kataku dengan hati-hati. Aku takut kalau kata-kataku malah ada yang menyinggung perasaannya. “Nah, bagus kamu tadi udah mau tanya tentang kerudung. Itu namanya kamu sudah kritis dan mau menggunakan akalmu untuk berpikir mendalam. Aku doakan biar kamu segera menerapkan ya cantik…” lanjutku.
“Tapi Mimi belum pede Rin kalau mau pakai kerudung dan baju panjang kayak kamu. Orang nanti bilang apa, Mama Papa juga belum tentu setuju.”
“Mi, kamu pikirin dulu supaya semakin mantap. Berdoa semoga dimantapkan, berdoa agar Allah membulatkan niatmu dan membuatmu berani untuk menerapkannya. Insya Allah dimudahkan, Mi…”
“Gitu ya Rin? Airin nanti bantu Mimi ya kalau sudah yakin…” Aku mengangguk pelan, mengiyakan.
***
Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan pada Mimi. Entah apa yang sekarang sedang ia pikirkan. Yang jelas aku tidak berani menanyakannya. Aku ingin membiarkan ia benar-benar memikirkannya sendiri sampai kemantapan itu hadir dalam dirinya, bukan karena suruhan, apalagi paksaan. Mimi adalah teman yang cerdas, aku tahu itu. Kalau satu minggu masih tidak ada perubahan, baru aku akan menanyakannya, tekadku.
***
Tapi ternyata satu minggu berlalu pun tak ada perubahan pada diri Mimi. Mimi masih dengan setelan jeans dan kaos berkerah atau kemeja lengan pendeknya ketika kuliah. Setidaknya hubungan kami tidak merenggang, itu yang sangat aku syukuri. Sejujurnya aku takut percakapan kami minggu lalu membuatnya menjauhiku.
“Mi, ke kantin yuk! Aku lapar belum sarapan hari ini,” ajakku.
“Ayo Riiiin! Sehati banget kita. Aku juga belum makan apapun hari ini. Sampai tadi aku hamper puasa kalau nggak ingat tadi pagi habis bangun tidur aku langsung minum air, hehehe…” Aku senang mendengar renyah tawanya. Mimi ceria seperti biasa. Kami pun segera beranjak ke kantin fakultas.
“Airin, aku…bingung…” katanya tiba-tiba. Tentu saja aku kaget, tapi aku tidak menyangka bahwa ia akan memulai duluan.
“Kenapa Mi? Cerita dong…” pancingku.
“Yang waktu itu lho Rin, yang kita cerita-cerita tentang menutup aurat. Eh sebenarnya yang aku nanya-nanya sih ya, hehehe…” tawanya kembali menghiasi wajahnya walau sejenak. “Waktu Mama telepon aku cerita-cerita ke Mama. Terus aku nggak boleh pakai kerudung dan baju-baju panjang gitu…”
“Mmmm, alasannya?” tanyaku penuh selidik.
“Mama bilang baju-baju kayak gitu nanti malah membatasi aku dalam kegiatan kuliah dan organisasi. Bahkan Mama sampai bilang nanti susah dapat kerja dan dapat jodoh. Aku bingung harus bilang gimana sama Mama Rin….”
“Kamu sendiri yakin nggak kalau yang Mamamu bilang itu benar?”
“Aku nggak yakin sih Rin. Mungkin memang nanti aku jadi nggak bisa petakilan atau banyak gerak kayak sebelumnya. Tapi aku pikir itu bagus, sekalian biar cewek dikit akunya, hehe…”
“Yang alasan lainnya gimana? Yang katanya nanti kegiatan kuliah sama organisasi jadi terbatas, kerja dan jodoh juga,” cecarku.
“Kalau kuliah sama organisasi kayaknya nggak deh. Buktinya aku lihat kamu masih aktif-aktif aja di kampus tanpa ada yang melarang-larang kamu aktif gara-gara pakaianmu. Tapi kalau kerja dan jodoh…aku agak ragu sih sebenarnya…”
Pesanan kami datang, tapi perbincangan ini rasanya tak bisa dijeda. Mimi pun tidak lantas menyentuh makanannya seperti biasa.
“Ragunya gimana Mi?”
“Misalnya gini lho Rin, kalau lowongan pekerjaan kan biasanya tulisannya dicari yang berpenampilan menarik. Nah, apa dengan menutup aurat aku jadi menarik? Jodoh juga, apa laki-laki tertarik pada perempuan yang keindahannya justru ditutup-tutupi, Rin?”
Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Mimi barusan. “Mi, banyak kok lapangan pekerjaan yang tidak mensyaratkan penampilan. Jangan mau jadi perempuan yang dinilai karena penampilan. Lebih baik kita dipilih karena kita memang berkompeten pada suatu bidang, karena ilmu kita. Apalagi Allah menilai seseorang dari kemuliaan akhlaknya. Fisik itu tidak ada artinya kalau pribadinya buruk!” kataku meyakinkan. “Kemudian kalau masalah jodoh…gini deh logikanya Mi, kalau seorang laki-laki memilih istri seorang perempuan yang tidak menutup aurat, itu artinya ia memilih seorang perempuan yang tidak menaati perintah Tuhannya. Nah, logikanya kalau sama Allah saja dia nggak mau taat, apalagi sama suaminya Mi?” tanyaku retoris.
Mimi mengangguk-angguk. Aku lihat binar matanya mulai cerah dan semakin yakin. “Aku suka jawabanmu yang kedua Mi. Iya ya, kalau sama Allah saja nggak mau taat, bagaimana nanti sama suaminya?”
“Nggak usah takut sama jodoh Mi. Perempuan baik tentu akan dapat laki-laki baik yang akan jadi jodohnya, insya Allah.”
“Sekarang aku harus ngomong gimana ya Rin sama Mama. Aku juga pengen Mama ikut sadar kalau menutup aurat itu harus, bahkan wajib…”
“Mmm…gimana kalau kamu ada kesempatan pulang ke rumah, kamu bicarakan baik-baik sama Mamamu. Bilang saja terus terang. Kamu boleh banget kok menceritakan obrolan kita selama ini. Mudah-mudahan Mamamu ikutan kepengen menutup aurat juga, dan bukan karena tren, tapi karena memang itu perintah Allah pada kita.”
“Gitu ya Rin? Kalau gitu…weekend ini insya Allah aku pulang. Oke Rin, aku nanti akan segera bilang. Doain ya Rin!” Binar cerah menghiasi matanya.
“Iya Mi, selalu…” kataku. Aku sayang banget sama temanku yang satu ini. Mana pernah aku berhenti mendoakan kamu agar kamu benar-benar bisa menghijabi dirimu, Mimi?
Suasana kantin terasa lebih lega dari biasanya. Nampaknya sejalan dengan perasaan legaku tahu Mimi akan segera berhijab. Kami pun segera menyantap makanan pesanan kami masing-masing.
***
“Airiiiiiiiiiiiiiin ‼” sebuah teriakan keras memanggil namaku ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke gedung kuliah. Aku reflek menoleh dan kaget.
Aku kaget bukan hanya karena melihat Mimi yang sekarang mengenakan kerudung, tapi juga karena pakaian Mimi dari ujung ke ujung itu…terlalu berlebihan!
“Mimi nih ngagetin, teriak-teriak segala…” sungutku pura-pura marah ketika Mimi menghampiriku.
“Maaf deh maaf…. Rin, hehehe. Mamaku akhirnya ngebolehin aku berhijab, lho! Mama bilang sekarang banyak model berhijab yang tetap mengikuti mode jadi nggak ketinggalan zaman. Jadi tetap stylish deh! Mamaku juga sekarang mulai suka hunting model-model hijabers-hijabers gitu Rin! Katanya lagi model sekarang yang beginian. Gaya kerudung sama baju muslim jadi banyak modifikasinya, makanya Mama mulai tertarik.”
Aku sedikit menahan sesak. Rupanya aku masih kurang memberi tahu Mimi bahwa menutup aurat juga ada ketentuannya, bukan asal tertutupi. Hari ini aku melihat Mimi dengan penampilan berbeda. Kerudung dan baju panjang memang menutupi kepala dan tubuhnya. Tapi lilitan dan tarikan di sana-sini kerudungnya membuat lehernya yang terbalut dalaman kerudung ninjanya terlihat membentuk jenjang lehernya sempurna. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga membuat kepalanya menyerupai punuk unta. Bajunya panjang tapi…masih sedikit menerawang. Bajunya dimasukkan ke dalam jeans ketatnya, membuat lekuk tubuh dari pinggul ke kakinya terlihat saking ketatnya. Belum lagi, aksesoris kalung panjang dan aksesoris yang ‘meramaikan’ kerudungnya.
“Kamu merasa nyaman nggak Mi, pakai baju seperti sekarang ini?” tanyaku sepanjang kami menaiki tangga menuju kelas.
“Aku…mungkin karena baru pertama kali aja Rin masih kurang nyaman. Pakai kerudung begini aja lama banget. Kayaknya ada deh satu jam aku di depan cermin mematut-matut, nyoba-nyobain model kerudung, padu-padan baju. Gitu-gitu deh Rin!”
Beberapa teman yang berapapasan dengan kami menyapa Mimi yang tampil berbeda hari ini. Mimi menanggapinya dengan senyum manisnya sekalipun sapaan teman-teman hanya berupa ledekan.
“Kamu percaya nggak Mi, bahkan untuk orang yang baru pertama kali pakai kerudung dan baju tertutup, dia nggak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk memakai baju yang menutupi auratnya. Bahkan 15 menit pun cukup untuk memakai baju dari awal sampai tertutup rapi dengan kerudung dan kaos kaki.”
“Ah, masa sih Rin? Boong aaah…. Kalaupun ada paling juga bajunya nggak terlalu di mix and match, kerudungnya juga nggak kayak model zaman sekarang…”
“Naaah, itu dia poinnya. Bukan masalah mode, tapi memang ternyata ada hal yang lupa aku sampaikan ke kamu. Perintah Allah untuk menutup aurat itu bukan hanya tertutup lalu selesai segala urusan. Ada hal-hal yang harus dipenuhi ketika kita menutup aurat. Mmm…semacam syarat-syarat gitu deh Mi biar aurat itu tertutupi secara sempurna.”
“Misalnya?” tanya Mimi.
“Aku kasih gambaran singkat aja ya Mi, nanti aku pinjemin buku yang membahas aurat wanita dan bagaimana muslimah harus berpakaian deh buat kamu baca. Kalau aku ceritain panjang lebar sampai ke dalil-dalilnya nanti aku kayak ustadzah lagi ceramah, terus nanti kamu bete lagi ngeliatnya…” aku tersenyum lebar memperlihatkan sederetan gigiku.
“Siap Bu Ustadzah Airin yang baik hati,” kata Mimi dengan gaya seperti orang hormat.
“Tuh kan belum apa-apa aja aku udah dibilang ustadzah. Aamiin aja deh,” aku memperlihatkan muka bersungut-sungut untuk menggoda Mimi. “Jadi gini Mi, meskipun kita sudah menutup aurat, pakaian yang kita kenakan tidak boleh ketat sehingga membentuk bentuk tubuh, tidak boleh transparan, tidak boleh mengikuti cara berpakaian lawan jenis, dan tidak boleh berlebihan. Satu lagi, kerudung yang kita gunakan harus menutup dada dan tidak boleh menyerupai punuk unta di kepala. Artinya ikat rambut atau gelungan rambut kita tidak boleh terlalu tinggi sehingga menyerupai punuk unta. Atau misalnya zaman sekarang ditambah-tambahi dalaman kerudung atau ciput bercepol yang sengaja dibuat agar kerudung yang kita kenakan menyerupai punuk unta.”
“Kenapa begitu, Rin?”
“Memang aturannya begitu, Mimi shalihah…. Bahkan hadits yang melarang kerudung menyerupai punuk unta itu mengatakan bahwa pelakunya tidak akan mencium wangi surga. Nah…bagaimana mau masuk, bahkan mencium wanginya saja tidak bisa? Aku memperhatikan raut muka terkejut Mimi. “Begitu juga dengan pakaian yang ketat yang membentuk tubuh atau transparan. Kalau begitu, apa gunanya pakaian yang dikenakan? Bukannya menutupi malah menonjolkan bagian-bagian yang seharusnya ditutupi. Apa bedanya dengan orang yang tidak menutup aurat?”
“Tapi kan setidaknya tertutupi, Rin.” Mimi tampaknya membela diri. Sepertinya ia merasa pakaiannya masih seperti apa yang aku katakan tadi.
“Tertutupi itu bukan hanya setidaknya. Tubuh kita itu ibarat perhiasan kita yang tidak boleh kita pamerkan keindahannya pada orang yang bukan muhrim kita. Kalau hanya kita beri tirai sedikit, orang-orang masih bisa melihat walau samar, menikmati keindahannya padahal bukan haknya. Jangan sampai kita punya dobel dosa Mi, menutup aurat yang tidak sempurna dan membuat orang lain berdosa karena melihat aurat kita. Menutup aurat yang tidak sempurna itu seperti berpakaian tapi telanjang. Ganjarannya? Sama seperti kerudung yang menyerupai punuk unta tadi, tidak mencium wanginya surga. Na’udzubillahimindzalik…”
“Rin, itu serius ada dasarnya?”
“Yeee Si Eneng, masa aku mau ngarang-ngarang nakutin kamu? Ini karena aku sayang kamu Mimi, makanya aku ngomong gini. Kita mau masuk surga sama-sama, kan?” aku tersenyum.
“Airin, aku jadi malu pakai pakaian kayak gini….” Mimi terdiam sebentar. “Eh tapi aku jadi ingat Mama deh Rin. Mama kan tertarik sama model-model hijab sekarang, makanya Mama membolehkan aku berhijab. Dan Mama juga tertarik karena menurutnya model hijab-hijab sekarang itu modis. Nah, apa nggak boleh kita berhijab yang modis dengan tujuan agar orang lain yang belum berhijab tertarik untuk ikut berhijab juga? Kalau begitu kan nanti akan lebih banyak lagi orang yang berhijab…”
“Coba kita inget-ingat lagi Mi, kita menutup aurat, berhijab itu karena apa? Karena siapa?”
“Allah, Rin. Mematuhi perintah Allah, begitu kan kamu bilang dulu?”
“Nah..Sekarang sudah paham, belum?”
“Belum Rin,” Mimi menggeleng pelan.
“Dengan memakai pakaian yang mengikuti mode, berarti menggunakan pakaian dengan mengutamakan fungsinya sebagai tren fashion, bukan penutup aurat, padahal batasan yang Allah tentukan untuk standar menutup aurat itu sudah jelas. Dan ini jelas melenceng karena tujuan mengenakannya saja sudah salah, bukan menunjukkan ketaatan pada Allah. Kedua, orang yang melihat pakaian kita, sesuatu yang tadi kamu bilang upaya kita mengajak orang lain untuk turut berhijab, jika nanti kemudian mereka berhijab, tentu cara berhijabnya akan mengikuti cara berhijab kita yang salah tadi. Nah lho, dakwah berhijabnya tepat sasaran, tapi salah penerapan. Salah-salah malah jadi dosa jariyah, mengalir terus dosanya selama orang masih ngikutin cara berhijab kita yang salah. Jadi, pilih mana?”
“Yang benar dan sesuai apa yang Allah perintahkan, dooong,” kata Mimi. Wajahnya gembira, seperti puas sudah menemukan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Memang terlalu banyak modus-modus fashion untuk pemenuhan materi yang disampaikan lewat penerapan perintah Allah yang salah. “Nanti temenin aku beli baju ya Rin, aku mau bisa berhijab sempurna kayak kamu.”
“Siiip, aku juga masih belajar untuk terus memperbaiki diri, kok. Kita sama-sama belajar ya Mi Kalau aku salah, kamu harus ingetin aku juga.” Kataku.
“Oke Bos Airin! Siap!”
Kami pun tertawa bersama. Aku tidak sabar menemani Mimi membeli baju dan menunggu besok melihat penampilan Mimi yang baru dengan hijab syar’inya.


Fitri Hasanah Amhar