Mengupayakan keberhasilan adalah juga OTOMATIS upaya menghindari kegagalan

Minggu, 02 Februari 2014

Hijab untuk Siapa?





“Rin, kamu kenapa sih pake kerudung?” tanya Mimi tiba-tiba, seperti memecah keramaian kampus sekalipun yang mendengar hanya diriku seorang.
“Eh? Lah kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?” aku kaget sambil tertawa kecil. Sahabatku ini rupanya mulai penasaran. Mungkin ini celah yang Allah berikan padaku agar aku bisa mulai berdakwah padanya.
“Habis kan ada yang pakai kerudung ada yang nggak. Udah tau Jogja lagi panas-panasnya begini, kamu masih aja tahan pakai kerudung dan baju tertutup. Aku aja yang nggak pakai udah gerah[1] banget, apalagi kamu coba yang ditutup-tutupin…”
“Siapa bilang aku pakai kerudung terus jadi gerah? Biasa aja kali Mi… Paling sekarang derajat gerahku sama gerahmu sama aja, nggak ada bedanya…”jawabku sambil memasang muka menggoda Mimi. Akhir-akhir ini memang cuaca Jogja sedang panas-panasnya.
“Bohong ah Rin, masa sama? Nggak mungkin…” Mimi tak percaya. Wajahnya penuh rasa ingin tahu.
“Beneran pengen tahu nih, kenapa meski sepanas ini aku tetap pakai kerudung?” aku tambah iseng menggoda Mimi.
“Iya Airin….beneran…” wajah Mimi terlihat kesal.
“Hehehe, oke Mi. Jadi…Aku pakai kerudung dan baju tertutup lengkap bahkan sampai pakai kaos kaki segala adalah karena…ini perintah Allah untuk selalu menutup aurat, begitu Mimi sayang!” kataku.
Mimi terdiam sejenak. “Rin, kalau kata Allah, apa berarti setiap perempuan yang beragama Islam harus memakainya untuk menutup aurat?” tanya Mimi.
“Nah, siiiip. You’ve got the point! Itu dia, karena ini perintah Allah, maka semua muslimah harus memakainya. Muslimah itu ya tentu saja semua perempuan yang beragama Islam! Termasuk aku dan kamu,” kataku berseri-seri. Aku mulai melihat celah bahwa Mimi sedang berpikir lebih dalam.
“Tapi Rin, Mamaku nggak pakai kerudung, keluarga besarku juga nggak semuanya pakai kerudung, bahkan teman-teman kita dan mungkin masih banyak perempuan lainnya yang nggak menutup aurat. Apa menutup aurat itu bukan pilihan Rin?”
“Mi, kalau Allah bilang perintah menutup aurat adalah wajib. Maka itu namanya bukan pilihan Mi. Kita nggak punya hak untuk memilih antara melakukannya atau meninggalkannya. Mutlak bahwa itu harus,” aku menjelaskan pelan-pelan. Masalah seperti ini tidak boleh disampaikan dengan cara menggurui, apalagi seolah-olah kitalah yang paling benar. “Seperti perintah shalat. Allah bilang shalat itu wajib. Makanya semua muslim harus menunaikannya.”
“Kalau wajib, kenapa masih banyak juga yang nggak menutup aurat, Mi? Kenapa nggak sedari kecil kita diajari begitu? Bahkan pelajaran agama di sekolah pun nggak membahas tentang aurat. Kami dulu hanya diajarkan tentang shalat, zakat, bahkan mungkin pembagian waris yang sebenarnya terlalu detil padahal penerapannya tidak sesering keharusan menutup aurat?” Mimi bertambah kritis. Aku kembali memutar otak agar menemukan jawaban yang baik untuk menjawab pertanyaannya.
“Karena masih banyak yang belum paham, Mi,” aku terdiam sebentar, menata kata-kata yang bermunculan di kepalaku, “Masih banyak yang belum paham itu bisa terjadi karena banyak sebab. Ada yang belum tahu dan memang belum mencari tahu, tapi ada juga yang sudah tahu tapi menyepelekan. Karena paham dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Masih sedikit orang Islam yang mau menggunakan akalnya untuk berpikir mendalam.”
“Mmm…maksud berpikir mendalam itu gimana?” Mimi bertanya.
“Jadi gini Mi. Misalnya ada orang yang belum tahu tentang kewajiban menutup aurat. Kemudian dia nggak cari tahu, nggak belajar Islam dengan baik akhirnya nggak dapat ilmunya juga kan? Padahal kewajiban menuntut ilmu itu nggak cuma ilmu dunia saja. Ilmu agama juga penting banget, apalagi diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.”
“Kalau nggak kepikiran buat menuntut ilmu bagian menutup auratnya Rin? Misalnya dia udah belajar agama dengan baik tapi masalah ibadah kayak shalat, baca Quran, zakat, puasa kayak gitu gimana?”
“Berpikir mendalam itu kaitannya juga dengan kehidupan sekitar Mi. Harusnya kita berpikir kritis ketika melihat di sekitar kita ada orang yang menutup aurat dan ada yang nggak. Kenapa bisa begitu? Harusnya di hati kecil kita terbesit rasa ingin tahu dan sejak saat itu rasa penasaran membawa kita pada kemauan mencari tahu yang tinggi. Dan ketika tahu bahwa menutup aurat wajib, misalnya, harusnya yang kita lakukan segera adalah menerapkan ilmu tadi pada kehidupan kita. Apalagi contohnya tadi menutup aurat yang sifatnya wajib. Wajib itu bukan perkara aku mau dan aku tidak mau. Itu nanti jatuhnya jadi masalah nafsu manusia yang mudah digoda setan. Wajib itu perkara kita diperintahkan untuk harus melakukan. Kalau masalah aku mau dan tidak mau nanti jadinya nyambung ke aku mau surga dan aku tidak mau surga. Nah lho, dampaknya malah jauh banget!” kataku dengan hati-hati. Aku takut kalau kata-kataku malah ada yang menyinggung perasaannya. “Nah, bagus kamu tadi udah mau tanya tentang kerudung. Itu namanya kamu sudah kritis dan mau menggunakan akalmu untuk berpikir mendalam. Aku doakan biar kamu segera menerapkan ya cantik…” lanjutku.
“Tapi Mimi belum pede Rin kalau mau pakai kerudung dan baju panjang kayak kamu. Orang nanti bilang apa, Mama Papa juga belum tentu setuju.”
“Mi, kamu pikirin dulu supaya semakin mantap. Berdoa semoga dimantapkan, berdoa agar Allah membulatkan niatmu dan membuatmu berani untuk menerapkannya. Insya Allah dimudahkan, Mi…”
“Gitu ya Rin? Airin nanti bantu Mimi ya kalau sudah yakin…” Aku mengangguk pelan, mengiyakan.
***
Satu hari, dua hari, tiga hari berlalu. Tidak ada perubahan pada Mimi. Entah apa yang sekarang sedang ia pikirkan. Yang jelas aku tidak berani menanyakannya. Aku ingin membiarkan ia benar-benar memikirkannya sendiri sampai kemantapan itu hadir dalam dirinya, bukan karena suruhan, apalagi paksaan. Mimi adalah teman yang cerdas, aku tahu itu. Kalau satu minggu masih tidak ada perubahan, baru aku akan menanyakannya, tekadku.
***
Tapi ternyata satu minggu berlalu pun tak ada perubahan pada diri Mimi. Mimi masih dengan setelan jeans dan kaos berkerah atau kemeja lengan pendeknya ketika kuliah. Setidaknya hubungan kami tidak merenggang, itu yang sangat aku syukuri. Sejujurnya aku takut percakapan kami minggu lalu membuatnya menjauhiku.
“Mi, ke kantin yuk! Aku lapar belum sarapan hari ini,” ajakku.
“Ayo Riiiin! Sehati banget kita. Aku juga belum makan apapun hari ini. Sampai tadi aku hamper puasa kalau nggak ingat tadi pagi habis bangun tidur aku langsung minum air, hehehe…” Aku senang mendengar renyah tawanya. Mimi ceria seperti biasa. Kami pun segera beranjak ke kantin fakultas.
“Airin, aku…bingung…” katanya tiba-tiba. Tentu saja aku kaget, tapi aku tidak menyangka bahwa ia akan memulai duluan.
“Kenapa Mi? Cerita dong…” pancingku.
“Yang waktu itu lho Rin, yang kita cerita-cerita tentang menutup aurat. Eh sebenarnya yang aku nanya-nanya sih ya, hehehe…” tawanya kembali menghiasi wajahnya walau sejenak. “Waktu Mama telepon aku cerita-cerita ke Mama. Terus aku nggak boleh pakai kerudung dan baju-baju panjang gitu…”
“Mmmm, alasannya?” tanyaku penuh selidik.
“Mama bilang baju-baju kayak gitu nanti malah membatasi aku dalam kegiatan kuliah dan organisasi. Bahkan Mama sampai bilang nanti susah dapat kerja dan dapat jodoh. Aku bingung harus bilang gimana sama Mama Rin….”
“Kamu sendiri yakin nggak kalau yang Mamamu bilang itu benar?”
“Aku nggak yakin sih Rin. Mungkin memang nanti aku jadi nggak bisa petakilan atau banyak gerak kayak sebelumnya. Tapi aku pikir itu bagus, sekalian biar cewek dikit akunya, hehe…”
“Yang alasan lainnya gimana? Yang katanya nanti kegiatan kuliah sama organisasi jadi terbatas, kerja dan jodoh juga,” cecarku.
“Kalau kuliah sama organisasi kayaknya nggak deh. Buktinya aku lihat kamu masih aktif-aktif aja di kampus tanpa ada yang melarang-larang kamu aktif gara-gara pakaianmu. Tapi kalau kerja dan jodoh…aku agak ragu sih sebenarnya…”
Pesanan kami datang, tapi perbincangan ini rasanya tak bisa dijeda. Mimi pun tidak lantas menyentuh makanannya seperti biasa.
“Ragunya gimana Mi?”
“Misalnya gini lho Rin, kalau lowongan pekerjaan kan biasanya tulisannya dicari yang berpenampilan menarik. Nah, apa dengan menutup aurat aku jadi menarik? Jodoh juga, apa laki-laki tertarik pada perempuan yang keindahannya justru ditutup-tutupi, Rin?”
Aku terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Mimi barusan. “Mi, banyak kok lapangan pekerjaan yang tidak mensyaratkan penampilan. Jangan mau jadi perempuan yang dinilai karena penampilan. Lebih baik kita dipilih karena kita memang berkompeten pada suatu bidang, karena ilmu kita. Apalagi Allah menilai seseorang dari kemuliaan akhlaknya. Fisik itu tidak ada artinya kalau pribadinya buruk!” kataku meyakinkan. “Kemudian kalau masalah jodoh…gini deh logikanya Mi, kalau seorang laki-laki memilih istri seorang perempuan yang tidak menutup aurat, itu artinya ia memilih seorang perempuan yang tidak menaati perintah Tuhannya. Nah, logikanya kalau sama Allah saja dia nggak mau taat, apalagi sama suaminya Mi?” tanyaku retoris.
Mimi mengangguk-angguk. Aku lihat binar matanya mulai cerah dan semakin yakin. “Aku suka jawabanmu yang kedua Mi. Iya ya, kalau sama Allah saja nggak mau taat, bagaimana nanti sama suaminya?”
“Nggak usah takut sama jodoh Mi. Perempuan baik tentu akan dapat laki-laki baik yang akan jadi jodohnya, insya Allah.”
“Sekarang aku harus ngomong gimana ya Rin sama Mama. Aku juga pengen Mama ikut sadar kalau menutup aurat itu harus, bahkan wajib…”
“Mmm…gimana kalau kamu ada kesempatan pulang ke rumah, kamu bicarakan baik-baik sama Mamamu. Bilang saja terus terang. Kamu boleh banget kok menceritakan obrolan kita selama ini. Mudah-mudahan Mamamu ikutan kepengen menutup aurat juga, dan bukan karena tren, tapi karena memang itu perintah Allah pada kita.”
“Gitu ya Rin? Kalau gitu…weekend ini insya Allah aku pulang. Oke Rin, aku nanti akan segera bilang. Doain ya Rin!” Binar cerah menghiasi matanya.
“Iya Mi, selalu…” kataku. Aku sayang banget sama temanku yang satu ini. Mana pernah aku berhenti mendoakan kamu agar kamu benar-benar bisa menghijabi dirimu, Mimi?
Suasana kantin terasa lebih lega dari biasanya. Nampaknya sejalan dengan perasaan legaku tahu Mimi akan segera berhijab. Kami pun segera menyantap makanan pesanan kami masing-masing.
***
“Airiiiiiiiiiiiiiin ‼” sebuah teriakan keras memanggil namaku ketika aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke gedung kuliah. Aku reflek menoleh dan kaget.
Aku kaget bukan hanya karena melihat Mimi yang sekarang mengenakan kerudung, tapi juga karena pakaian Mimi dari ujung ke ujung itu…terlalu berlebihan!
“Mimi nih ngagetin, teriak-teriak segala…” sungutku pura-pura marah ketika Mimi menghampiriku.
“Maaf deh maaf…. Rin, hehehe. Mamaku akhirnya ngebolehin aku berhijab, lho! Mama bilang sekarang banyak model berhijab yang tetap mengikuti mode jadi nggak ketinggalan zaman. Jadi tetap stylish deh! Mamaku juga sekarang mulai suka hunting model-model hijabers-hijabers gitu Rin! Katanya lagi model sekarang yang beginian. Gaya kerudung sama baju muslim jadi banyak modifikasinya, makanya Mama mulai tertarik.”
Aku sedikit menahan sesak. Rupanya aku masih kurang memberi tahu Mimi bahwa menutup aurat juga ada ketentuannya, bukan asal tertutupi. Hari ini aku melihat Mimi dengan penampilan berbeda. Kerudung dan baju panjang memang menutupi kepala dan tubuhnya. Tapi lilitan dan tarikan di sana-sini kerudungnya membuat lehernya yang terbalut dalaman kerudung ninjanya terlihat membentuk jenjang lehernya sempurna. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga membuat kepalanya menyerupai punuk unta. Bajunya panjang tapi…masih sedikit menerawang. Bajunya dimasukkan ke dalam jeans ketatnya, membuat lekuk tubuh dari pinggul ke kakinya terlihat saking ketatnya. Belum lagi, aksesoris kalung panjang dan aksesoris yang ‘meramaikan’ kerudungnya.
“Kamu merasa nyaman nggak Mi, pakai baju seperti sekarang ini?” tanyaku sepanjang kami menaiki tangga menuju kelas.
“Aku…mungkin karena baru pertama kali aja Rin masih kurang nyaman. Pakai kerudung begini aja lama banget. Kayaknya ada deh satu jam aku di depan cermin mematut-matut, nyoba-nyobain model kerudung, padu-padan baju. Gitu-gitu deh Rin!”
Beberapa teman yang berapapasan dengan kami menyapa Mimi yang tampil berbeda hari ini. Mimi menanggapinya dengan senyum manisnya sekalipun sapaan teman-teman hanya berupa ledekan.
“Kamu percaya nggak Mi, bahkan untuk orang yang baru pertama kali pakai kerudung dan baju tertutup, dia nggak perlu menghabiskan waktu selama itu untuk memakai baju yang menutupi auratnya. Bahkan 15 menit pun cukup untuk memakai baju dari awal sampai tertutup rapi dengan kerudung dan kaos kaki.”
“Ah, masa sih Rin? Boong aaah…. Kalaupun ada paling juga bajunya nggak terlalu di mix and match, kerudungnya juga nggak kayak model zaman sekarang…”
“Naaah, itu dia poinnya. Bukan masalah mode, tapi memang ternyata ada hal yang lupa aku sampaikan ke kamu. Perintah Allah untuk menutup aurat itu bukan hanya tertutup lalu selesai segala urusan. Ada hal-hal yang harus dipenuhi ketika kita menutup aurat. Mmm…semacam syarat-syarat gitu deh Mi biar aurat itu tertutupi secara sempurna.”
“Misalnya?” tanya Mimi.
“Aku kasih gambaran singkat aja ya Mi, nanti aku pinjemin buku yang membahas aurat wanita dan bagaimana muslimah harus berpakaian deh buat kamu baca. Kalau aku ceritain panjang lebar sampai ke dalil-dalilnya nanti aku kayak ustadzah lagi ceramah, terus nanti kamu bete lagi ngeliatnya…” aku tersenyum lebar memperlihatkan sederetan gigiku.
“Siap Bu Ustadzah Airin yang baik hati,” kata Mimi dengan gaya seperti orang hormat.
“Tuh kan belum apa-apa aja aku udah dibilang ustadzah. Aamiin aja deh,” aku memperlihatkan muka bersungut-sungut untuk menggoda Mimi. “Jadi gini Mi, meskipun kita sudah menutup aurat, pakaian yang kita kenakan tidak boleh ketat sehingga membentuk bentuk tubuh, tidak boleh transparan, tidak boleh mengikuti cara berpakaian lawan jenis, dan tidak boleh berlebihan. Satu lagi, kerudung yang kita gunakan harus menutup dada dan tidak boleh menyerupai punuk unta di kepala. Artinya ikat rambut atau gelungan rambut kita tidak boleh terlalu tinggi sehingga menyerupai punuk unta. Atau misalnya zaman sekarang ditambah-tambahi dalaman kerudung atau ciput bercepol yang sengaja dibuat agar kerudung yang kita kenakan menyerupai punuk unta.”
“Kenapa begitu, Rin?”
“Memang aturannya begitu, Mimi shalihah…. Bahkan hadits yang melarang kerudung menyerupai punuk unta itu mengatakan bahwa pelakunya tidak akan mencium wangi surga. Nah…bagaimana mau masuk, bahkan mencium wanginya saja tidak bisa? Aku memperhatikan raut muka terkejut Mimi. “Begitu juga dengan pakaian yang ketat yang membentuk tubuh atau transparan. Kalau begitu, apa gunanya pakaian yang dikenakan? Bukannya menutupi malah menonjolkan bagian-bagian yang seharusnya ditutupi. Apa bedanya dengan orang yang tidak menutup aurat?”
“Tapi kan setidaknya tertutupi, Rin.” Mimi tampaknya membela diri. Sepertinya ia merasa pakaiannya masih seperti apa yang aku katakan tadi.
“Tertutupi itu bukan hanya setidaknya. Tubuh kita itu ibarat perhiasan kita yang tidak boleh kita pamerkan keindahannya pada orang yang bukan muhrim kita. Kalau hanya kita beri tirai sedikit, orang-orang masih bisa melihat walau samar, menikmati keindahannya padahal bukan haknya. Jangan sampai kita punya dobel dosa Mi, menutup aurat yang tidak sempurna dan membuat orang lain berdosa karena melihat aurat kita. Menutup aurat yang tidak sempurna itu seperti berpakaian tapi telanjang. Ganjarannya? Sama seperti kerudung yang menyerupai punuk unta tadi, tidak mencium wanginya surga. Na’udzubillahimindzalik…”
“Rin, itu serius ada dasarnya?”
“Yeee Si Eneng, masa aku mau ngarang-ngarang nakutin kamu? Ini karena aku sayang kamu Mimi, makanya aku ngomong gini. Kita mau masuk surga sama-sama, kan?” aku tersenyum.
“Airin, aku jadi malu pakai pakaian kayak gini….” Mimi terdiam sebentar. “Eh tapi aku jadi ingat Mama deh Rin. Mama kan tertarik sama model-model hijab sekarang, makanya Mama membolehkan aku berhijab. Dan Mama juga tertarik karena menurutnya model hijab-hijab sekarang itu modis. Nah, apa nggak boleh kita berhijab yang modis dengan tujuan agar orang lain yang belum berhijab tertarik untuk ikut berhijab juga? Kalau begitu kan nanti akan lebih banyak lagi orang yang berhijab…”
“Coba kita inget-ingat lagi Mi, kita menutup aurat, berhijab itu karena apa? Karena siapa?”
“Allah, Rin. Mematuhi perintah Allah, begitu kan kamu bilang dulu?”
“Nah..Sekarang sudah paham, belum?”
“Belum Rin,” Mimi menggeleng pelan.
“Dengan memakai pakaian yang mengikuti mode, berarti menggunakan pakaian dengan mengutamakan fungsinya sebagai tren fashion, bukan penutup aurat, padahal batasan yang Allah tentukan untuk standar menutup aurat itu sudah jelas. Dan ini jelas melenceng karena tujuan mengenakannya saja sudah salah, bukan menunjukkan ketaatan pada Allah. Kedua, orang yang melihat pakaian kita, sesuatu yang tadi kamu bilang upaya kita mengajak orang lain untuk turut berhijab, jika nanti kemudian mereka berhijab, tentu cara berhijabnya akan mengikuti cara berhijab kita yang salah tadi. Nah lho, dakwah berhijabnya tepat sasaran, tapi salah penerapan. Salah-salah malah jadi dosa jariyah, mengalir terus dosanya selama orang masih ngikutin cara berhijab kita yang salah. Jadi, pilih mana?”
“Yang benar dan sesuai apa yang Allah perintahkan, dooong,” kata Mimi. Wajahnya gembira, seperti puas sudah menemukan jawaban atas rasa penasarannya selama ini. Memang terlalu banyak modus-modus fashion untuk pemenuhan materi yang disampaikan lewat penerapan perintah Allah yang salah. “Nanti temenin aku beli baju ya Rin, aku mau bisa berhijab sempurna kayak kamu.”
“Siiip, aku juga masih belajar untuk terus memperbaiki diri, kok. Kita sama-sama belajar ya Mi Kalau aku salah, kamu harus ingetin aku juga.” Kataku.
“Oke Bos Airin! Siap!”
Kami pun tertawa bersama. Aku tidak sabar menemani Mimi membeli baju dan menunggu besok melihat penampilan Mimi yang baru dengan hijab syar’inya.


Fitri Hasanah Amhar


Sabtu, 18 Januari 2014

Jangan Lepaskan Aku, Sahabat

Cintakan bunga, akan layu…
cintakan manusia, akan mati…
cintakan ALLAH, kekal abadi…
itulah CINTA, cinta yang hakiki…
عن أنس بن مالك رضي الله عنه خادم رسول الله صلى الله عليه وسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم  قال :
لا يؤمن أحدكم حتّى يحب لأخيه ما يحب لنفسه)
رواه البخاري ومسلم
Mafhumnya : tidak beriman seseorang mu’min itu sehingga dia mengasihi saudaranya seperti dia mengasihi dirinya sendiri.
“warkah cinta”
saat pertama kali ingin di “update” catatan ini, ianya berupa sebuah kisah..namun setelah sekian lama tergendala…suka ana ingin menceriakannya kembali dengan sedikit perkongsian lazat !
boleh la menukar cerita kepada catatan yang lebih LUAR BIASA !
wah ! pasti berbunga-bunga hati sahabat-sahabat pabila catatan ini berunsur C.I.N.T.A.
jangan disalahkan CINTA sekiranya anda jatuh dalam jurang yang dusta,
jangan disalah ertikan ungkapan suci itu..andai anda yang tersesat dulu,
jangan dibenci kalimah istimewa ini..andai anda tidak tahu menghargai.

ok..
jadi, apakah dia CINTA ?
Cintailah Illahi yang menciptakan kita ini..
Cintailah Nabi yang memberi syafaat di akhirat nanti..
Cintailah Abi dan Ummi yang memberi kebahagian buat diri..
Cintailah dia yang bernama SAHABAT SEJATI.

SAHABAT SEJATI,

ingat mudah ke nak mencari si dia yang sejati. EH, silap. sahabat sejati.
sukar. namun, ia boleh di cari..

bagaimana ?
jadilah kita sahabat yang sentiasa menyayangi antara satu sama lain.
mengasihi dan mencintai kerana ILLAHI.
Allah. sering kita dengar, “ukhwah fillah ilal jannah”
jauh kan?
sangat jauh. apa maknanya ? INGIN KE SYURGA BERSAMA..

BAGAIMANA ?
nak sama-sama berjaya..nak sama-sama belajar..
susah payah bersama..macam tu kan ?

begitulah takrifan UKHWAH pabila kita faham apakah nama “ikatan ajaib” itu.
membawa dirinya dan kita ke syurga bukanlah ibarat kita membawa bungkusan buah epal yang masak ranum masuk ke rumah untuk dimakan bersama.

mudah bukan.
zahirnya. itu bukan kerja MUDAH. tetapi itu adalah kerja yang perlukan USAHA.
Hah. nak kata susah ke ? jangan dulu..usaha itu akan memudahkan kerja.
ALLAH kan ada. SENYUMM*

ADAKAH dengan kita melakukan kebaikan berseorangan, kita akan dapat melangkah hebat ke syurgaNya dengan bahagia.
fikir semula.
Allah beri kan pahala yang berlipat kali ganda pada mereka yang solat BERJEMAAH dengan 27 kali ganda pahala. see? BERJEMAAH.

Diulangi. BERJEMAAH.
begitu juga dengan melakukan kebaikan. Allah akan berikan kita syurga, sekiranya kita BERJEMAAH sesama melakukan kebaikan.
nak ke kita, lakukan kebaikan berseorangan…namun, di akhirat kelak, kita akan di heret kembali oleh si dia yang tiada kebaikan di dunia.
hai berbunga-bunga nak melangkah selangkah sahaja lagi ke gerbang firdausi. tetapi, diheret ke neraka dek tuntutan kebaikan yang tidak dikongsi bersama pada si dia.
rugi. betul-betul RUGI.
T_T

ANDA nampak tak apa kesannya jika kita lakukan kebaikan tanpa mengajak orang lain ke arah kebaikan.
dalam surat cintaNya :
“pada hari itu sahabat-sahabat karib ; setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh)”
(az-zhukruf : 67)

Genggam erat tangan ini sahabat. Jgn pernah lepaskan. Bila hati rasa resah. Sandarkan segalanya pada DIA yg satu. Bila langkah terasa lemah. Kuatkan ikatan ini kerana DIA. Tuntun daku ke syurga. kerana aku tidak akan pernah kuat tanpa kalian dan tanpaNya..”

_sidiayangbernamaSAHABAT_ 
begitulah…
SAHABAT ini adalah mereka yang sering mendoakan kita..
siapapun yang membawa kita kepada Allah..
dia itulah SAHABAT SEJATI..
mungkin kita belum boleh digelar dengan gelaran itu..
namun, tanam dalam hati..untuk menjadi seorang yang boleh berpimpinan tangan ke SYURGA nanti.. :)

by  1

Ambil Yang Baik. Jangan Buat Lenggang Kangkung Isu Cinta Ini

Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”- (Surah al-Nur 24: ayat 26).

CINTA - Penangannya sungguh berbisa. Masakan tidak. Ianya menjadi isu yang tetapenergetic terutama dikalangan remaja, mahasiswa dan mahasiswi.
Bila sebut saja perihal cinta semua ada definisinya, pandangannya, mungkin pengalaman, mungkin sejarah silam dan 1001 lagi cerita.
Cinta. Orang bercakap senang. Semua orang boleh komen itu, komen ini, cakap itu dan cakap ini. Hakikatnya yang merasai tetap orang itu, kan.
Umur begini macam ni pandangannya terhadap cinta, umur macam ni sebegini pula. Boleh berubah-ubah. Senang cakap. Macam ni la. Semua orang ada fasa-fasa tumbesarannya.
Kita setuju itu dan kita kena meraikan setiap pandangan itu, mungkin sahaja, dari situ kita lebih memahami realiti hidup remaja hari ini, dan cara seseorang memandang cinta itu.

Ambil yang baik dan fikirkanlah.

Namun cinta bukan sekadar cakap-cakap sahaja dan cinta bukan sekadar komen-komen sahaja, dan berjanji-janji sahaja.
Nak bercinta kena ada Ilmu. Kena banyak membaca. Kena banyak meneroka. Kena banyak mendengar. Kena banyak memerhati. Kena banyak muhasabah. Kena banyak berfikir.
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”- ( Surah Al-Hasyr, 59: Ayat 18)
KITA. Naluri rasa cinta itu fitrah. Skop cinta itu luas. Jangan disempitkan.
Namun tidak dinafikan bab cinta antara lelaki dan perempuanlah yang menjadi menonjol di kalangan pemuda pemudi selama ini. Namun sejauhmana kita pernah terfikir mengenainya dan duduk merenungi serta berbincang perihal cinta ini.
Akhir-akhir ini, Saya melihat dan memerhati, dan saya menemui sesuatu bahawa persekitaran, kemahuan serta kesungguhan seseorang itu dalam memahami sesuatu hal dapat meluaskan lagi pandangannya terhadap sesuatu perkara.
Seluas mana pemahaman kita mengenai CINTA?
Atau kita selama ini menyempitkkan skopnya, tahu tapi buat-buat tidak ambil endah? Kita buat lenggang kangkung isu cinta ini? Tenyata kita perlukan vaksin. Cuba buka mata luas-luas.
Mustahil kita hidup berundur ke belakang. Mustahil kita sebegini saja. Cinta awak terhenti bila si dia dah mati?
Matlamat cinta awak terhenti setakat untuk didunia sahaja? Kalau boleh panjang-panjangkanlah, biar hingga ke syurga ya..baru la awesome!!
Bila berbicara mengenai cinta, pernah awak terfikir mengenai tanggungjawab yang awak akan galas? Brothers sisters sekalian dan diri saya juga, tanggungjawab kita  di dunia besar kaitannya dengan akhirat kita.
Termasuk juga bab cinta-cinta ni. Awak nak buat lenggang kagkung ke?
Terjun ke alam itu tanpa persediaan? Tanpa usaha?
Di sayangi, menyayangi, gembira, tersengih, kadang kala menangis, bergaduh. Itu saja? Beginilah, kita tolak tepi semua tu sebentar, mari kita fikir mengenai ini.
Awak jatuh cinta. Ada awak fikir mengenai perhubungan awak? Ada awak fikir tentang Allah redha atau tak. Ada awak fikir, sejauhmana awak nak bawa cinta tu? Ke syurga? Alhamdulillah jika ya.
Namun hakikat sekarang. Kita harus perhati perbuatan yang dalam bercinta tu. Nak senarai memang banyak. Tapi saya senaraikan beberapa.
Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan satu jalan yang buruk”.- (Surah al-Isra 17: ayat 32)
Bermesej. Bercalling. Bervideo call. Hantar gambar. Keluar jalan-jalan. Bukan sehari dua. Itu awak sendiri tahu. Awak guna duit siapa? Banyak mana deria awak guna? Berbelit-belit kan.
Tenang-tenang. Mari saya jelaskan. Jika awak masih belajar, ada awak pernah fikir tentang duit itu. Mungkin awak meminjam atau dipinjamkan oleh PTPTN, biasiswa kerajaan Negeri, MARA, JPA,  dan mungkin dari FAMA( father dan mother).
Bagaimana pula dengan amanah masa yang sepatutnya kita gunakan dengan baik, namun habis sia-sia begitu saja? Ada sedar?
Ingatkah kita dengan hari dimana Allah akan persoalkan setiap apa yang kita lakukan. Deria-deria kita menjadi saksi apa yang kita lakukan. Saat mulut dikunci. Deria yang lain akan patuh dan menceritakan perihal kita dihadapan Tuhan.
Mungkin ya, ada yang merancang untuk berkahwin. Namun muhasabahlah, atas dasar rasa suka sahajakah awak membina perkahwinan itu?
Kita pernah dengar ini. Jika benar cinta hendak bersama ke syurga- Hilal Asyraf.
Saya amat tertarik dengan kata-kata ini. Benar. Apalah ertinya cinta jika menghumban dan membawa kita ke neraka. Apalah namanya cinta jika sambil lewa.
Tanggungjawab dan amanah yang ada terabai. Bagai melepas batuk ditangga? Seolah-olah ini tidak akan dipersoalkan diakhirat kelak. Begitu?
Asyik fikir kahwin, namun persediaannya dan usaha itu ke laut? Tak boleh juga. Belanja bertunang, belanja hantaran, belanja kad jemputan, khemah, dewan, belanja makanan, belanja karaoke, belanja door gift, belanja pelamin, belanja baju kahwin, dan belanja jurugambar. Ada pernah fikir?
Itu baru untuk kos kahwin. Pernah fikir yang lebih besar dari itu. Haaa…Amanah yang kau galas selepas itu.
Nak jalan macam mana?.. Ilmu dah ada? Planning dah ada? Planning untuk tahun pertama macam mana? Planning untuk 5 tahun akan datang?  Nak tinggal dekat mana? Bil air, belanja makan minum, kereta, nafkah. Semua itu perlu duit.
Bukan saya nak kita pandang pada duit semata-mata. Namun lebih kepada amanah itu dan alam realiti. Jangan hanya tahu berfantasi. This dunya is just temporary.
Awak nak keluarga yang bahagia, itu saya rasa semua orang pun menginginkannya. Cakap saja tidak guna juga kan. Usaha ke arah itu? Maka dengan ilmulah. Belajarlah.
Dengan masa yang ada dan Allah pinjamkan ini, maka belajarlah. Sekurang-kurangnya kita berusaha. Berusaha nak cari redha Allah. Bila Allah redha, InshaaAllah berkatNya juga bersama.
Lagi satu. Jika ditakdirkan awak ada rezeki zuriat. Ada pernah awak fikir bagaimana nak didik dia? Adakah awak akan cepat melenting, dengan emosi semata-mata. Marah-marah. Bersedia dengan tangisan budak-budak? Karenah-karenah dia?
Kita sekarang diabad ke 21. Kena sedar. Cabarannya makin ekstrim hebatnya. Anak kena dididik dengan agama. Kena kenalkan dengan Allah. Mendidik kena ada ilmu. Contohi sedaya mampu gaya Rasulullah s.a.w dalam mendidik.
sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.-(Surah Al-Ahzab 33: ayat 21).
Manusia ada fasa-fasa tumbesarannya. Tahap umur begini, macam ni cara didiknya, tahap umur begini macam ni pula cara didiknya. Ada kita kisah selama ini mengenai itu? Ada kita usaha untuk belajar dan cari ilmu tentang itu?.
Awak salah jika awak hanya lepaskan tugas mendidik kepada guru dan pihak sekolah. Pernah awak bayangkan jika anak awak tanya mengenai bab-bab agama? Allah dekat mana?
Ayah, ibu, ceritakanlah mengenai nabi Muhammad? Kenapa kena solat? Pernah awak bayangkan jika anak awak tanya, kenapa ibu ayah tak solat? Cikgu kata…? kenapa perlu begini, begitu..pernah awak terfikir.
Bagaimana awak akan jawab, berhikmahkah? Tahukah awak cara yang sesuai?. Fikir-fikirkanlah.
Akhir sekali, saya menyeru, diri saya terutamanya, remaja, mahasiswa, dan mahasiswi, Perhatikanlah wajah ibu dan ayah Kita. Kenanglah mereka. Ingatlah juga, Kita masih belajar. Fokus dan buatlah yang terbaik dalam pelajaran.
Perhatikan juga hubungan Kita dengan Allah. Dekatilah DIA. Cari wasilah-wasilah yang boleh meningkatkan kecintaan kita padaNya. Jaga solat, dan perbaiki ibadah-ibadah wajib.
Binalah diri ke arah yang lebih baik hari demi hari. Andai pernah tersilap langkah, bertaubatlah, banyakkan istighfar dan jangan diragui kasih sayang dan pengampunan Allah.
Jika kita jatuh cinta, maka fikirlah dengan ilmu. Banyakkan soal-jawab dengan diri, Allah redha atau tidak apa yang aku buat ni? Terlalai dan melalaikan aku kah cinta ini? Pahala atau dosakah dengan perbuatan aku ini?
Dahagalah akan ilmu, belajarlah. Berkasih sayanglah dengan keluarga, guru-guru, dan sahabat serta perbaiki dan jaga juga hubungan sesama manusia.
Dan akhir sekali, sibukkanlah diri dengan usaha pembinaan diri, dengan aktiviti berfaedah.
“ Ketika cinta menyapamu, janganlah silau dengan indahnya dia, tetapi lihatlah apakah cinta itu akan membuatmu semakin dekat kepada Allah atau tidak?”
Selama kita menjaga diri, menguatkan diri dengan akhlak islam, menjaga kehormatan diri dan hati, maka Allah akan pilihkan pasangan yang tepat untuk kita. Bukan sekarang, bukan juga esok pagi, tetapi bila tiba saatnya.
*****
by  

Soft Words for Tears

As if it's a badge of honor, I thought.
It was Tuesday morning, and I was a little distraught that no one actually came to pick me up fromMasungkang. So instead of teaching there, I came to school anyway, and I was greeted by the children, "Pak tidak ke Masungkang?"
I evaded the question, heading straight to the teachers' room. And found myself face-to-face with Pak Nurhuda, slated to teach English to the sixth and fourth graders that morning. Him and nobody else. No headmaster in sight, and the other teachers wouldn't arrive until a bit later.
So we ended up talking about how a good headmaster would've been present in the office at 7 am everyday, checking the teaching plans his teachers would've submitted him for authorization before they put that plans to life. He wouldn't have been content when his teachers reported to him that kid A or kid B has troubles, or had been making troubles. He'd call those kid to his office, and giving them counseling himself.
No, he would't have dished out corporal punishment, he'd nudge them with soft words that would go straight to the heart and make the kid weep without him needing to lay a finger.
I actually agree to everything he said, up to the corporal punishment bit. But I'm not so sure about the weeping kid part. The thing is, Pak Nurhuda spoke of it with such reverence that I could not help but sprinkle a couple grains of salt to what he said.
It's just that I've had my students wept, then surreptitiously wiped their eyes, and proceeded to openly weep for so many times this past year. All with nothing else but words. And it never fails to make me feel bad about myself.
And if you wondered whether these weepings were the result of their friends teases and pokes, these weren't. I was only considering the tears that I made them cry. All with nothing else but words.
If that ability is such a wonderful thing, then why, I ask, doesn't it feel wonderful?
So no, I don't prance around with those experience, as if it's a badge of honor.
If anything, when it happens, it made me wonder if I had been fit to teach them. If anything, they made me wonder if I had not been a failure.
There was a day when I made half of the girls in the third grade weep, after I made them recite from memory Sumpah Pemuda in turn. I made them do little else but recite them word for word. When they stumbled, or faltered, or forgot a word, I ask them to recite the whole pledge again. From the beginning.
After several tries, they were visibly frustrated, and so was I. Hadn't they been paying attention? Why did they keep on forgetting the words? It was five to one pm already and there are still students who couldn't recite the pledge. I was at my wit's end. I was this close to implode, and Apri's tantrum from beyond the fifth grade partition was not helping any matter.
I went home absolutely drained afterwards.
There was also this time when I made Rizki, Andrian and Ayu forwent recess because they hadn't done their math homework. The punishment was simple: they had to stay indoor and did 30 math problems like the ones they didn't do. They ended up working on the problem by my desk at the teachers' office, and I spotted once or twice Ayu and Rizki blinked and wiped their eyes to their sleeves, leaving streaks of tearstrain.
Recess ended, and I sent them back to the classroom. Ayu put her head on the desk the whole time, and Niluh, her desk mate told me that Ayu had been feeling unwell then.
There must have been a way for everything to go the way everyone said the ideal lesson: the lessons fun, the pupils understand, the teacher proud. All that while the kids are all able to actively take part in the activities, well behaved and aware of their duties and responsibilities. It hadn't been the condition of my classroom. It hasn't been.
Really, it has been a pandemonium every other day.
Because even in the days when I was in good humour, and the lessons were enjoyable, you can count on Murphy's law to predict that it had to be days when the children are unruliest. Fights, scuffles, and kerfuffles virtually guarantees that one of them will end up weeping, with the other sulking when I made him apologize to his friend.
Faced with incidents like these means that there are only three alternatives to take. One is succumbing to the insanity of the pandemonium. Two is detaching self from the students and letting one becomes an apathetic cynic. Three is constant re-evaluation.
Of the three, I believe only the latter alternative is worth considering, because I value my sanity (who doesn't?), and thus the first alternative can be scratched off. The second alternative is no course an educator worthy of the job in good conscience should even consider. Not only one becomes no longer fit to bear the title of an educator when one is apathetic toward one's students, but that very apathy is the undoing of the education itself.
So only alternative three remains: constant re-evaluation on our part. Of what works, of what doesn't to temper the children's tantrums, to scoot my class one inch closer to the ideal classroom. To educate them.
And to likewise learn from them in the process.
oleh Masyur Aziz Hilmy

Merajut Mimpi Pemuda Rote

“Bermimpilah setinggi mungkin, karena mimpi itu gratis. Biarkan pensil anda menuliskannya di selembar kertas, dan serahkan kepada Tuhan untuk menebalkan mimpi itu, agar suatu saat ia menjadi nyata.” -Anies Baswedan-

                Sebuah pesan sederhana yang membangkitkan semangat saya di suatu siang menjelang sore pada Hari Pahlawan beberapa waktu lalu berasal dari Bapak pendiri Gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan. Beliau memberikan pesan tersebut di akhir pembicaraan teknologi yang dibuat oleh Alexander Graham Bell. Memang, berkilo meter kami terpisah, tapi semangat yang disampaikan beliau kepada pemuda Rote menjadi cambuk keras agar mereka berjuang untuk masa depannya.
Aula yang beratapkan daun lontar itu menjadi saksi atas 60 peserta Kemah Pemuda Rote yang diadakan oleh Komunitas Anak Muda Rote Ndao (Kamu Rote Ndao) dan Pengajar Muda 6 Indonesia Mengajar. Tak pelak, acara yang dihelat selama dua hari, 9-10 November 2013 itu menjadi serangkaian tangan Tuhan yang mempertemukan kami dengan anak muda berapi-api yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Kami menjadi berarti, menjadi saksi bagaimana 5-10 tahun ke depan impian mereka yang tergabung dalam kegiatan Kemah Pemuda Rote (KPR) ini akan tercapai.
                Menyiapkan acara dalam kurun waktu ± 1 bulan bukanlah hal mudah, apalagi untuk skala kabupaten. Beberapa media presentasi untuk kegiatan ini bahkan sulit ditemui di Rote, saya dan Iwan, koordinator tim Rote Ndao, mencari majalah bekas hingga ke Kupang. Tangan Tuhan memang baik, kami ditolong oleh Ibu Yona dari Gramedia Kupang. Dua kardus berisikan majalah itu lah yang menjadi modal 60 pemuda Rote dalam membuat vision board mereka.
                Persiapan lain yang serba mendadak bukan hanya terjadi pada bahan-bahan saja, namun juga materi acara, makanan, tempat, dan turbulensi kegiatan Pengajar Muda (PM) dan kakak-kakak Kamu Rote Ndao masing-masing. Semua punya kegiatan tersendiri, kami saja ketemu saat weekend, Sabtu dan Minggu dalam 1 bulan itu. Bisa dibayangkan betapa hecticnya persiapan kami. Meski begitu, ikhwal dari kegiatan ini adalah kepedulian kami terhadap masa depan pemuda Rote. Sincerity is the answer.
                Keresahan hati kami adalah kepedulian kami. Kepedulian kami berasal dari ketulusan hati. Ya, kami melihat bahwa Rote membutuhkan anak muda yang percaya akan mimpi bagi dirinya sendiri dan daerahnya. Kami sempat berdiskusi beberapa kali, apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak muda Rote, apa potensi yang ada pada diri mereka untuk digali, apa yang harus mereka miliki ke depannya agar hidup mereka lebih baik dari sekarang. Kami pun menemukan jawabannya. DREAM.
                “If you can dream it, you can do it.” Kalimat sakti dari Walt Disney ini benar adanya. Jika kita bisa bermimpi, tentu saja kita bisa mewujudkannya. Lalu, bagaimana menimbulkan mimpi dari diri mereka? Motivasi. Serangkaian acara sebelum masuk ke ranah vision board, peserta diajak untuk melihat proses hidup manusia. Mereka dimotivasi dengan materi yang diberikan oleh Rizqie, PM yang ditempatkan di Oeseli. Setelah itu, materi vision board saya bawakan sambil membawa vision board yang telah saya buat.
 Kemudian mereka diajak untuk membuat vision board sendiri, dengan karton, majalah bekas, lem, gunting, dan spidol warna-warni. Mereka berkreativitas, menggali cita-cita. Tampak raut wajah antusias bagi mereka yang baru pertama kali membuat vision board. Sungguh, saya terharu melihatnya. Apalagi ketika saya berbincang-bincang dengan beberapa anak muda, baik di kelompok saya atau kelompok lain. Rata-rata mereka sudah memiliki cita-cita, namun terhambat dengan dorongan dari dalam diri dan luar. Mereka mengaku termotivasi untuk mendapatkan impian di masa depan. Keliling dunia, menjadi polwan, pemain sepak bola, guru, perawat, kuliah di luar Rote, ahli komputer, hingga Bupati Rote Ndao adalah cita-cita mereka.
See? Mereka tidak kekurangan stok mimpi. Dengan vision board, mereka justru terdorong untuk meraih mimpi mereka secepat mungkin dengan menggunakan prinsip SMART (specific, measurable, attainable, realistic, dan timebound). Kami meminta mereka untuk menempelkan vision board itu di dinding kamar mereka. Jadi, setiap mereka bangun pagi mereka melihat vision board tersebut, dan tertanam dalam alam bawah sadar mereka agar mereka rajin belajar, berusaha, dan berdoa, dengan tujuan apa yang mereka tulis di vision board itu menjadi nyata. Hasilnya? Vision board itu sangat kreatif mereka buat. Aktivitas ini bukan cuma menggunting dan menempel saja, namun juga aktivitas yang membuat mereka lebih kreatif dalam meraih cita-cita.
Vision board selesai, lantas apalagi? Pemuda Rote disuguhkan materi tentang Local Heroes. Pahlawan lokal ini dibawakan oleh Kamu Rote Ndao dan Klub Sepak Bola Rote ‘Bintang Mandiri’. Masing-masing pembicara mengemukakan ide dan harapannya untuk Rote. Mereka adalah bukti nyata bahwa negeri ini punya stok anak muda kreatif yang memiliki harapan besar untuk Indonesia. Orang lokal inilah yang akan membawa Rote lebih baik bersama masyarakatnya, dan kami percaya itu.
Pada malam menjelang Hari Pahlawan itu juga, ada materi Renungan Kepahlawanan yang tidak biasa. Deklamasi puisi oleh Ice dan Rizqie, serta nyanyian lagu oleh Kak Tiva dan saya, menjadi bagian acara tersebut. Acara disetting agar peserta fokus, diam, dan tidak ada suara. Mereka diajak untuk khusyuk berpikir, apa yang telah mereka lakukan untuk Indonesia? Sebatas mana mereka berjuang untuk bermimpi dan berkarya bagi diri sendiri dan daerahnya? Menjadi pemuda penerus bangsa atau perusak bangsa? Kira-kira itulah yang ingin disampaikan. Di akhir acara malam itu, kami berharap mereka semakin termotivasi dan secara nyata berkontribusi bagi Rote di masa depan.
Penutupan acara di hari minggunya dimulai dengan ibadah minggu dan olahraga pagi. Kebersamaan diuji secara berkelompok dengan permainan yang dikemas dalam outbond. Ice memandu kami agar acara yang bertujuan untuk membangun kekompakan antar sesama ini berjalan lancar. Saya kebagian pos  bersama Kak Serwin dari Kamu Rote Ndao. Beberapa tim yang kami wawancarai mengaku acara di minggu pagi itu semakin membuat mereka tidak ingin menghentikan KPR. Hehe. Mereka ingin menambah hari. Mereka menuliskan di kertas testimoni agar acara ini ditambah harinya, agar mereka semakin banyak mendapat wawasan, agar menjadi pemuda Rote yang berguna, agar impian mereka tercapai, agar mereka mengenal banyak teman dan pengalaman baru, dan agar-agar lainnya.
Perhelatan kegiatan ini ditunjang pula dengan permainan-permainan yang sarat akan makna. Mulai dari tiup balon, membentuk bunga teratai + lampu merah + ojek, dan lainnya membuat wajah bahagia terpancar. Saya melihat anak-anak muda ini haus akan kegiatan seperti ini. Mereka membutuhkan acara yang membangkitkan motivasi untuk berani bermimpi, bukan hanya berhenti disini, tapi berkelanjutan, seperti yang mereka tulis di kertas testimoni. Permainan itu ditutup dengan pemilihan ketua angkatan pertama KPR. Terpilihlah Sarliance Lette (Serly) sebagai ketua. Perempuan yang bercita-cita sebagai polisi wanita ini punya cita-cita yang besar untuk daerahnya. Tekad dan semangatnya membara. Pengharapannya tinggi, namun tidak lupa rendah hati. Kelak ia akan memandu 59 teman-temannya dalam merangkul mereka, merancang kegiatan, atau bahkan menjadi ajang sharing pengalaman. Doakan semoga mereka menjadi pemuda harapan bangsa sejatinya.
Hampir satu bulan acara KPR telah usai. Banyak kejadian yang kami syukuri. Bisa berbagi dengan pemuda Rote, bisa bekerja sama dengan aktor lokal, dan memperkuat tim Rote juga. Saya sendiri banyak belajar dari acara ini. Mengenal banyak orang dan membuat acara di tempat yang bahkan saya baru pertama kali injakkan kaki, adalah sesuatu anugerah yang patut disyukuri. Karena ini bukan soal menginspirasi saja, namun juga justru saya lah yang terinspirasi agar lebih baik.

Let’s see what will happen on 5-10 years later with Rote youths. Let Allah Swt gives them big dream, big hope, and big motivation, to make their dream comes true. Dream, believe, and make it happen!


oleh Bella moulina